Berita Banjar

FP3 Banjar: Darurat Pendidikan Akibat Kenakalan Remaja

Infopriangan.com, BERITA BANJAR. Forum Pemuda Peduli Pendidikan (FP3) Kota Banjar, melalui ketuanya, Diki Agustaf, menyoroti maraknya kasus pelajar yang bolos sekolah dan terlibat dalam konsumsi minuman keras (miras). Fenomena ini dianggapnya sebagai masalah serius yang perlu perhatian dari berbagai pihak.

Diki menyampaikan bahwa kejadian seperti ini mencerminkan hilangnya budaya gotong royong dan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan.

“Dulu, jika ada anak bolos sekolah, masyarakat langsung menegur dan menyuruh mereka kembali ke sekolah. Tapi sekarang, kepedulian semacam itu hampir tidak ada,” ujar Diki ketika ditemui di kantornya, Senin (20/01/2025).

Menurutnya, kasus pelajar yang terlibat kenakalan remaja harus dianggap sebagai kondisi darurat yang memerlukan tindakan segera. Ia menyebut, kenakalan ini tidak hanya merugikan pelajar itu sendiri, tetapi juga mencerminkan lemahnya karakter generasi muda yang seharusnya menjadi penerus bangsa.

“Kasus seperti ini bukan lagi hal baru. Bahkan, jumlahnya terus meningkat. Ini menandakan ada yang salah dengan sistem pengawasan dan pendidikan kita,” jelasnya.

Diki menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama masalah ini adalah melemahnya budaya gotong royong di masyarakat. Ia membandingkan situasi saat ini dengan masa lalu, di mana masyarakat memiliki peran aktif dalam mengawasi dan mendukung pendidikan anak-anak.

“Ketika kami masih sekolah, jika nongkrong di warung saat jam pelajaran, pemilik warung akan langsung menyuruh kami kembali ke sekolah. Budaya semacam itu sekarang sudah jarang terlihat,” katanya.

Ia menilai, ketidakpedulian masyarakat terhadap pelajar yang bolos sekolah menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kenakalan remaja. Hal ini, menurutnya, tidak hanya tanggung jawab sekolah atau keluarga, tetapi juga tanggung jawab bersama.

Sebagai Ketua FP3, Diki mendorong pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan dan Aparatur Penegak Hukum (APH), untuk segera mencari solusi konkret. Ia juga meminta adanya langkah-langkah strategis yang melibatkan semua pihak, mulai dari akademisi, ormas, LSM, hingga media.

“Kita perlu duduk bersama untuk membahas cara meningkatkan mutu pendidikan dan membangun karakter pelajar. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab semua elemen masyarakat,” tegasnya.

Diki mengusulkan agar Dinas Pendidikan dapat memanfaatkan bidang kebudayaan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong. “Budaya itu bukan hanya soal tari-menari atau cagar budaya. Gotong royong juga bagian dari budaya yang harus dihidupkan kembali,” ujarnya.

Untuk mengatasi krisis ini, FP3 telah merancang program yang melibatkan pemerintah, akademisi, ormas, dan media massa. Program ini bertujuan untuk menyatukan semua pihak dalam satu visi, yakni membangun karakter pelajar dan meningkatkan mutu pendidikan.

Diki mengungkapkan bahwa masalah kenakalan remaja ini bukan hanya persoalan Kota Banjar, tetapi juga terjadi di banyak daerah lain. Oleh karena itu, ia menilai perlu adanya gerakan nasional untuk mengatasi darurat mental di kalangan pelajar.

“Ini bukan sekadar krisis pendidikan. Saya menyebutnya darurat mental. Kalau generasi muda kita tidak diperbaiki, bagaimana masa depan bangsa ini?” katanya dengan nada prihatin.

BACA JUGA: Hok Tek Bio Ciamis Siapkan Perayaan Imlek 2576

Sebagai aktivis pendidikan, Diki berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah serius untuk mengatasi masalah ini. Ia menyarankan agar forum diskusi lintas sektor segera diadakan untuk mencari solusi bersama.

“Kita harus satu frekuensi untuk memajukan pendidikan. Tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga membangun karakter pelajar dan menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong,” pungkasnya.

Dengan dorongan dari FP3 dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan dunia pendidikan di Kota Banjar dan Indonesia secara umum dapat kembali bangkit. Membentuk generasi muda yang berkarakter kuat dan peduli terhadap pendidikan adalah investasi besar bagi masa depan bangsa. (Johan/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *