Satu Dekade YRBK Banjar, Tidak Tersentuh Bantuan
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) Kota Banjar telah berkiprah selama satu dekade dalam dunia pendidikan nonformal. Namun, hingga kini, lembaga yang didirikan oleh Sofian Munawar itu belum pernah mendapatkan bantuan anggaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar.
Keadaan ini tentu ironis, mengingat peran YRBK yang cukup besar dalam mendorong literasi di masyarakat. Sofian mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun, pihaknya mengandalkan sumber daya mandiri dan dukungan moral dari berbagai komunitas. Ia menyayangkan kurangnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap upaya yang mereka lakukan.
“YRBK sudah hampir 10 tahun berkiprah di dunia pendidikan nonformal, tapi belum pernah sepeser pun mendapat dukungan anggaran dari Disdikbud Kota Banjar,” katanya. Jumat, (14/02/2025).
Meski begitu, Sofian tetap bersyukur karena YRBK masih bisa bertahan dan terus berkembang. Ia meyakini bahwa perjuangan dalam dunia pendidikan harus didasarkan pada ketulusan dan pengabdian, bukan semata-mata bergantung pada dana pemerintah.
YRBK saat ini berfokus pada penguatan literasi masyarakat. Mereka bersinergi dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK/PAUD hingga perguruan tinggi. Salah satu pencapaian terbesar mereka adalah penerbitan 78 buku sebagai bahan pembelajaran.
“Buku-buku itu adalah buah dari kerja keras dan semangat kami untuk terus berkontribusi dalam dunia literasi,” ujar Sofian dengan nada bangga.
Tanpa bantuan anggaran, YRBK tetap berkomitmen untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi masyarakat. Mereka mengadakan berbagai kegiatan, mulai dari kelas literasi hingga pelatihan menulis bagi anak-anak dan remaja.
Namun, ia tidak menampik bahwa keterbatasan dana menjadi tantangan besar. Banyak program yang ingin mereka kembangkan terhambat karena keterbatasan fasilitas dan pendanaan.
“Kami berharap dinas pendidikan bisa ikut memperhatikan dan memberikan bantuan fasilitas untuk kegiatan-kegiatan yang jelas sangat relevan dengan pendidikan,” ungkapnya.
Bagi Sofian, perjuangan di dunia pendidikan bukanlah soal mencari keuntungan atau penghargaan, tetapi tentang mencerdaskan generasi muda. Itulah yang membuatnya terus bertahan meskipun kerap merasa seperti “anak yatim-piatu” dalam sistem pendidikan di Kota Banjar.
Ia menyayangkan bahwa selama ini perhatian pemerintah lebih banyak terfokus pada pendidikan formal, sementara pendidikan nonformal sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, menurutnya, literasi adalah fondasi utama dalam membangun generasi yang cerdas dan kritis.
BACA JUGA: SMK Nurul Huda Panumbangan Gratiskan Pengambilan Ijazah Alumni
“Kami masih mendapat banyak dukungan moral dan doa dari banyak pihak. Itu yang membuat kami terus bertahan dan tidak pernah berhenti untuk giat dalam literasi,” katanya.
Meski begitu, ia tetap berharap suatu hari nanti ada perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada pendidikan nonformal. Bukan sekadar apresiasi dalam bentuk kata-kata, tetapi dukungan nyata yang bisa membantu komunitas seperti YRBK berkembang lebih jauh.
Sofian menegaskan bahwa seharusnya semua pihak, terutama pemerintah, memiliki pandangan yang lebih luas dalam memajukan pendidikan. Karena pada akhirnya, mencerdaskan bangsa adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya beban segelintir individu atau komunitas kecil. (Johan/infopriangan.com)

