IJTI Ciamis Dorong Kolaborasi Sehat Jurnalis dan Pemda

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kabupaten Ciamis menyoroti pentingnya membangun hubungan komunikasi yang lebih intens antara jurnalis dan pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa kolaborasi yang sehat akan berdampak langsung pada kualitas informasi yang diterima masyarakat, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi media saat ini.

Ketua IJTI Ciamis, Yosep, menyampaikan bahwa jurnalis dan pemerintah seharusnya memiliki hubungan yang saling mendukung tanpa menghilangkan fungsi kontrol media. Menurutnya, jika komunikasi dibangun berdasarkan kepercayaan dan profesionalitas, maka proses penyampaian informasi publik dapat berjalan lebih efektif.

“Saya berharap hubungan emosional dan komunikasi yang baik ini mencerminkan kolaborasi nyata dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat,” ujarnya. Kamis, (04/12/2025).

Yosep menjelaskan bahwa media elektronik memiliki peran strategis dalam percepatan penyebaran informasi, terutama terkait program pembangunan daerah. Karena itu, Yosef menekankan bahwa pemberitaan harus tetap mengutamakan prinsip jurnalistik yang berimbang, faktual, dan tidak dipengaruhi kepentingan tertentu.

“Informasi yang disampaikan melalui berita harus sesuai realita, tidak dibumbui kebencian atau kepentingan,” tegasnya.

Selain itu, Yosef menilai bahwa kolaborasi tidak hanya sebatas penyampaian informasi program pemerintah, tetapi juga promosi potensi daerah. Menurutnya, pemerintah dan jurnalis dapat bekerja sama dalam mengangkat potensi lokal seperti pariwisata, ekonomi kreatif, hingga sektor-sektor pembangunan lainnya.

“Jika kerjasama ini berjalan dengan baik, akan muncul simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak,” ungkapnya.

Yosep juga menambahkan bahwa jurnalis tidak perlu ragu berdiskusi dengan pemerintah mengenai berbagai persoalan yang ada di lapangan.

Namun, Yosep juga mengkritisi fenomena yang sering ia temui, yakni adanya produk jurnalistik yang hanya memuat informasi dari satu sisi. Ia menilai hal ini berbahaya karena dapat menyesatkan publik dan menimbulkan ketidakadilan bagi pihak yang tidak diberi ruang klarifikasi.

“Saya sering melihat berita yang berat sebelah hanya demi menarik pembaca. Ini jelas tidak sesuai dengan etika,” katanya.

Tidak hanya itu, Yosef juga menyoroti maraknya oknum yang mengatasnamakan wartawan namun tidak memiliki legalitas yang jelas. Ia menyebut bahwa sebagian dari mereka melakukan intimidasi kepada narasumber dengan nada ancaman hingga pemerasan.

“Jika menemukan oknum seperti itu, narasumber berhak menolak. Mereka sudah keluar dari kode etik jurnalis dan bisa masuk ranah hukum,” jelasnya.

BACA JUGA: DBS dan Duitin Luncurkan Program Pengelolaan Sampah Ciamis

Yosef menegaskan bahwa memberitakan masalah bukanlah kesalahan. Namun, ia menekankan pentingnya proses verifikasi mendalam agar berita tidak menjadi alat untuk menjatuhkan pihak tertentu. “Wartawan profesional pasti memahami bagaimana membuat berita yang benar. Jangan hanya mengandalkan isu. Harus ada cek dan ricek, konfirmasi, dan klarifikasi,” pungkasnya.

Menurutnya, jurnalis yang berpegang pada etika tidak hanya menjaga kehormatan profesi, tetapi juga menjaga kepercayaan publik. Karena itu, ia berharap kolaborasi antara jurnalis dan pemerintah dapat berjalan seimbang dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat. (Revan, Rizky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan