Pencipta Lagu Pop Sunda Kerap Terlupakan Publik

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Di balik maraknya lagu-lagu Pop Sunda yang kerap mendominasi ruang dengar masyarakat, terdapat peran penting pencipta lagu yang sering kali luput dari sorotan publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa industri musik cenderung menempatkan penyanyi dan popularitas lagu sebagai pusat perhatian, sementara pencipta lagu berada di balik layar tanpa pengakuan yang sepadan.

Kondisi tersebut dirasakan oleh Muhamad Ijudin Rahmat atau yang lebih dikenal sebagai Kang Zudin, sosok di balik sejumlah lagu Pop Sunda dan Pop Indonesia yang kini kembali ramai diperbincangkan. Ia menilai bahwa masyarakat umumnya hanya mengenal lagu dan penyanyinya, bukan penciptanya.

“Biasana mah nu diapalkeun ku masyarakat téh lagu jeung penyanyina, sanes saha nu nyiptakeunana,” ungkap Kang Zudin. Minggu, (11/01/2026).

Meski demikian, kiprah Kang Zudin di dunia musik tidak dapat dipandang sebelah mata. Sejumlah karya ciptaannya berhasil menembus pasar musik Sunda dan nasional, bahkan tetap relevan hingga saat ini. Ia diketahui sebagai pencipta lagu “Beurat” yang dipopulerkan Yayan Jatnika, serta “Peurih” yang dibawakan oleh berbagai penyanyi Sunda lintas generasi.

Kang Zudin menjelaskan bahwa lagu “Peurih” memiliki perjalanan panjang hingga kembali hits dan banyak dicover. Ia mengaku tidak menyangka lagunya kembali mendapat tempat di hati masyarakat.

“Abdi henteu nyangka lagu Peurih tiasa hirup deui sareng seueur nu ngaremake,” katanya.

Tidak hanya di ranah Pop Sunda, Kang Zudin juga menciptakan lagu Pop Indonesia berjudul “Bunda” yang dipopulerkan Andika Mahesa. Lagu tersebut sempat viral dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya, keberhasilan lagu tersebut menjadi bukti bahwa karya tulus akan menemukan jalannya sendiri.

“Lagu mah mun dijieun ku rasa, pasti aya jalanna sorangan,” ujarnya.

Dalam perkembangan teranyar, Kang Zudin kembali menunjukkan kreativitasnya dengan mengadaptasi lagu “Peurih” ke dalam versi bahasa Indonesia berjudul “Pedih”. Proses penulisan lirik dilakukan di lingkungan Lapas Ciamis bersama komunitas Pojok Musik, dengan pengawasan pihak lapas.

Zudin juga mengungkapkan bahwa proses tersebut berlangsung spontan namun tetap terkonsep.

“Abdi langsung nulis lirik basa Indonesia bari karoeke lagu Peurih versi Yayan Jatnika,” tuturnya.

Karya adaptasi tersebut mendapat apresiasi dari jajaran pejabat dan pegawai Lapas Ciamis. Menurut Kang Zudin, sambutan positif itu menjadi penguat bahwa musik dapat hadir di ruang mana pun, termasuk di lingkungan pemasyarakatan.

“Musik tiasa janten médium hiburan sareng refleksi di mana waé,” katanya.

Di tengah kondisi industri musik Indonesia yang dinilai tengah mengalami perlambatan, Kang Zudin memilih tetap produktif berkarya. Ia menegaskan bahwa konsistensi berkarya adalah bentuk tanggung jawab moral seorang seniman kepada masyarakat.

“Seni téh lain ngan ukur soal popularitas, tapi soal tanggung jawab kana karya,” tegasnya.

BACA JUGA: Pemkab Ciamis Tegaskan Hak dan Kesetaraan Tuli sebagai HAM

Saat ini, Kang Zudin aktif mengunggah karya-karyanya melalui kanal YouTube “KZ Musik Bandung Official”. Ia berharap masyarakat tidak hanya menikmati lagunya, tetapi juga memberi dukungan nyata terhadap karya pencipta lagu.

“Dukungan masyarakat téh penting pisan sangkan seniman tetep tiasa hirup sareng berkarya,” pungkasnya. (Satrio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan