Berita Pangandaran

Kenali Tanda Makanan Tak Layak Konsumsi untuk Cegah Keracunan

inforiangan,com. BERITA PANGADARAN. Masyarakat diimbau lebih berhati-hati sebelum konsumsi makanan yang telah disimpan dalam waktu tertentu. Perubahan pada makanan sering kali menjadi tanda bahwa kualitasnya sudah menurun dan tidak lagi aman dikonsumsi. Jika diabaikan, kondisi ini dapat memicu gangguan kesehatan hingga keracunan makanan.

Nutrisionis atau ahli gizi RSUD Pandega Pangandaran, Ijni Kusmuliya, mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda makanan yang sudah tidak layak konsumsi. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang kurang memperhatikan kondisi makanan sebelum dimakan.

Ia menilai kebiasaan tersebut berisiko karena makanan yang tampak biasa saja belum tentu masih aman dikonsumsi. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih teliti dengan memperhatikan perubahan pada bau, warna, tekstur, maupun rasa makanan.

“Jangan asal makan. Perhatikan dulu bau, warna, tekstur hingga rasanya. Kalau sudah ada perubahan yang tidak wajar, sebaiknya jangan dikonsumsi,” ujar Ijni, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan, salah satu tanda paling mudah dikenali adalah perubahan bau. Makanan yang mulai rusak biasanya mengeluarkan aroma yang tidak sedap seperti bau asam, tengik, atau berbeda dari kondisi normalnya. Bau tersebut muncul karena adanya proses pembusukan akibat pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme.

Selain bau, perubahan tekstur juga menjadi indikator penting. Ijni menyebutkan makanan yang sudah tidak layak konsumsi umumnya terasa berlendir, lengket, atau terlalu lembek. Pada buah dan sayuran, kondisi layu yang berlebihan juga bisa menjadi tanda bahwa kualitasnya sudah menurun.

Perubahan warna juga tidak boleh diabaikan. Ia menjelaskan bahwa makanan yang awalnya tampak segar dapat berubah menjadi kusam, kehijauan, kehitaman, atau muncul bercak-bercak yang tidak biasa. Menurutnya, kondisi tersebut sering kali menandakan adanya pertumbuhan mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.

“Kalau warna makanan berubah dari kondisi normalnya, sebaiknya jangan dipaksakan untuk dimakan,” katanya.

Tanda lain yang harus diwaspadai adalah munculnya jamur pada makanan. Jamur biasanya terlihat dalam bentuk bintik-bintik putih, hijau, atau keabu-abuan di permukaan makanan. Dalam kondisi seperti ini, Ijni menegaskan bahwa makanan tidak boleh hanya dibuang sebagian.

“Kalau sudah berjamur, jangan hanya dibuang bagian yang terlihat saja. Seluruh makanan harus dibuang karena jamur bisa menyebar ke bagian lain yang tidak terlihat,” jelasnya.

Selain itu, perubahan rasa juga dapat menjadi indikator kuat bahwa makanan sudah tidak aman dikonsumsi. Jika makanan terasa asam, pahit, atau tengik saat dicicipi, sebaiknya konsumsi segera dihentikan.

Lebih lanjut, Ijni mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan yang sudah rusak dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Gejala yang umum terjadi antara lain mual, muntah, diare, hingga keracunan makanan.

Ia menambahkan, kelompok tertentu seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil memiliki risiko yang lebih tinggi jika mengonsumsi makanan yang sudah tidak layak.

BACA JUGA: Herdiat Ajak Warga Jadikan Al-Qur’an Pedoman Hidup

Menurutnya, langkah pencegahan sebenarnya cukup sederhana. Masyarakat dianjurkan menyimpan makanan dengan cara yang benar, memperhatikan tanggal kedaluwarsa, serta menjaga kebersihan saat mengolah makanan.

Ia juga menekankan pentingnya tidak ragu membuang makanan yang dirasa sudah tidak aman.

“Lebih baik membuang makanan yang diragukan keamanannya daripada mempertaruhkan kesehatan,” tegasnya.

Dengan meningkatkan kesadaran terhadap kondisi makanan sebelum dikonsumsi, diharapkan masyarakat dapat mengurangi risiko keracunan makanan sekaligus menjaga kesehatan keluarga sehari-hari. (Kiki Masduki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *