Aktivis AMPAS Datangi BBWS Tuntut Penanganan Bencana

infopriangan.com, BERITA BANJAR. Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sungai Citanduy (AMPAS) mendatangi Kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy. Senin, (16/06/2025). Mereka menuntut penjelasan atas penanganan bencana yang dinilai belum menyentuh akar persoalan, khususnya di wilayah-wilayah yang kerap terdampak banjir dan longsor.

Kunjungan tersebut dihadiri oleh sejumlah pimpinan lembaga yang tergabung dalam AMPAS, seperti Forum Aliansi Kedaulatan Rakyat (Fakar), Komunitas Peduli Sungai Citanduy (Kompasuci), serta Forum Darurat (Fordar). Mereka menyampaikan keresahan masyarakat yang hidup di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy.

Menurut mereka, persoalan banjir dan longsor yang terus terjadi seolah menjadi siklus tahunan yang belum terselesaikan. Dalam dialognya, mereka meminta BBWS lebih transparan terkait langkah strategis dalam penanganan bencana.

“Kami datang bukan untuk konfrontasi, tapi menyampaikan keluhan warga. Sudah sejak 1986 wilayah-wilayah ini langganan banjir. Tapi sampai 2025 belum ada penyelesaian menyeluruh,” ujar Oki, Koordinator AMPAS, usai pertemuan.

Oki menyoroti perlunya keseriusan pemerintah pusat, khususnya Kementerian PUPR, dalam menyalurkan anggaran dan perhatian lebih terhadap Sungai Citanduy dan anak sungainya seperti Sungai Ciputrahaji, yang menurutnya menjadi salah satu sumber masalah banjir yang belum tertangani maksimal.

“Kalau kita bicara waktu, dari 1986 ke 2025 itu sudah hampir 40 tahun. Sudah cukup lama warga menderita akibat banjir yang selalu berulang,” tegasnya.

Dalam audiensi tersebut, pihak BBWS diwakili oleh Budi Gunawan selaku Humas sekaligus Tenaga Ahli Hukum BBWS Citanduy. Ia menyambut baik kehadiran para aktivis dan menyebut pertemuan ini sebagai bentuk silaturahmi serta ruang komunikasi antara masyarakat dan pihak pemerintah.

“Kami sangat terbuka dengan aspirasi yang disampaikan. Pertemuan ini sangat positif untuk menyerap masukan dari masyarakat,” kata Budi Gunawan kepada awak media.

Terkait penanganan bencana, Budi menjelaskan bahwa pihak BBWS selalu berkoordinasi dengan instansi lain seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota, serta menyiagakan tim khusus yang aktif selama 24 jam.

“Kami punya tim siaga bencana yang selalu siaga. Begitu ada laporan, langsung kami tindaklanjuti,” tambahnya.

Namun demikian, pihak AMPAS menyayangkan lambatnya langkah konkret yang dilakukan BBWS, terutama dalam wilayah-wilayah yang dianggap rawan dan sudah dikaji secara akademik serta administratif.

Agus Budiman alias Agus Kuncir dari Lembaga Pemantau Anggaran Publik (LPAP) menegaskan bahwa pihaknya telah mengantongi hasil kajian sejak 2002 hingga 2025 terkait kerusakan dan potensi bencana di kawasan Sungai Ciputrahaji, khususnya di Desa Cikaso dan Desa Sindangrasa, Kabupaten Ciamis.

“Kami punya dokumentasi lengkap sejak 2002. Ini bukan sekadar klaim. Sudah kami lampirkan dalam pengajuan resmi, didukung pula oleh dua kepala desa dan camat,” jelasnya.

BACA JUGA: Truk Pengangkut Triplek Terguling di Tikungan Putrapinggan

Agus menilai BBWS perlu membuka ruang evaluasi terhadap penetapan lokasi-lokasi yang dianggap mendesak. Menurutnya, kawasan Ciputrahaji termasuk kategori urgent dan patut diprioritaskan dalam program pengendalian banjir.

“Silakan dikaji ulang secara objektif. Kami hanya minta agar BBWS mau membuka mata dan hati terhadap kondisi lapangan yang sudah sangat mendesak,” pungkasnya.

Pertemuan antara AMPAS dan BBWS ini diakhiri dengan komitmen untuk menjaga komunikasi terbuka dan menjadwalkan pertemuan lanjutan. Para aktivis berharap, apa yang mereka suarakan tidak hanya didengar, tetapi benar-benar ditindaklanjuti demi keselamatan warga yang berada di sekitar Sungai Citanduy dan anak-anak sungainya. (Johan, infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan