Banjar Perkuat Upaya Tekan Stunting Secara Optimal
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Pemerintah Kota Banjar menegaskan komitmennya untuk menekan angka stunting secara konsisten dan menyeluruh, setelah tren penurunannya menunjukkan hasil yang semakin menggembirakan. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya lintas sektor yang dilakukan pemerintah dinilai cukup efektif, dan kini menjadi modal kuat untuk menatap target zero stunting baru pada 2025.
Pemerintah menyebut keberhasilan ini bukan hanya soal capaian angka, tetapi juga cerminan meningkatnya kesadaran masyarakat terkait gizi, kesehatan, dan pola hidup bersih.
Data resmi Pemerintah Kota Banjar menunjukkan penurunan signifikan. Pada tahun 2020, angka stunting berada di kisaran 23 persen. Namun, berdasarkan survei 2024 yang dirilis pada 2025, prevalensi berhasil ditekan menjadi sekitar 18–18,8 persen.
Wali Kota Banjar, H. Sudarsono, mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif yang terus diperbaiki dari tahun ke tahun.
“Kita berupaya bagaimana caranya memperhatikan keluarga masyarakat yang keluarganya mempunyai potensi kena stunting. Mulai dari pendekatan agar mereka menyadari pentingnya hidup sehat,” ujar Sudarsono.
Sudarsono menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pembagian bantuan gizi, tetapi juga pada perbaikan lingkungan, sanitasi, dan edukasi kesehatan.
“Kita berikan asupan gizi bagi keluarga yang berpotensi kena stunting dan memperbaiki kualitas lingkungannya,” tegasnya.
Di sisi lain, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Banjar menjadi motor penggerak dalam pengendalian stunting melalui program yang bersifat berkesinambungan.
Kepala DPPKB, H. Budi Hendrawan, menjelaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus melalui intervensi terukur dalam periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Tahapan ini dimulai sejak masa pranikah, kehamilan, hingga bayi berusia dua tahun.
Menurut Budi, program penanganan mencakup pembinaan pranikah, pendampingan pasangan usia subur, edukasi pengaturan jarak kehamilan melalui program KB, intervensi gizi bagi ibu hamil, pendampingan ibu menyusui untuk memastikan produksi ASI optimal, hingga pemantauan pertumbuhan bayi dan balita oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK).
“Semua siklus 1000 HPK itu kita dampingi. Evaluasi dilakukan bulanan, triwulanan, sampai akhir tahun untuk menentukan sasaran mana yang harus diperkuat,” jelasnya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penurunan dari 23,6 persen menjadi sekitar 18 persen bukan sekadar keberhasilan teknis, tetapi bukti bahwa pendekatan berbasis keluarga berjalan efektif. Budi menyebut penurunan tersebut sebagai motivasi besar bagi Pemkot Banjar untuk memperkuat program, terutama dalam memastikan tidak munculnya kasus stunting baru.
BACA JUGA: GEMAPATAS Percepat Pendaftaran Tanah Ulayat di Papua
Menatap 2025, DPPKB menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen. Target ini disertai komitmen untuk tidak menambah kasus baru, sehingga upaya zero stunting baru benar-benar bisa tercapai.
“Target kita mengarah ke zero stunting baru dan mencapai 14 persen,” tegas Budi. Kamis, (20/11/2025).
Pemerintah Kota Banjar memastikan bahwa strategi penanganan stunting akan terus dipertajam. Mulai dari peningkatan kapasitas pendamping keluarga, penguatan koordinasi lintas sektor, hingga edukasi intensif kepada masyarakat.
Upaya ini diharapkan menjadi pondasi menuju generasi yang lebih sehat, kuat, dan berdaya saing, sehingga pembangunan manusia di Kota Banjar dapat bergerak ke arah yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. (Johan)
