Evaluasi Pendidikan Kebangsaan Mendesak
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Anggota MPR RI, Agun Gunandjar Sudarsa, menegaskan perlunya evaluasi serius terhadap internalisasi pendidikan kebangsaan nasional saat menggelar sosialisasi Empat Pilar di Lapas Kelas IIB Banjar, Senin (2/3/2026).
Agun menyampaikan bahwa persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan individu, melainkan cermin dari proses pendidikan nilai yang mungkin belum sepenuhnya mengakar.
“Saya tidak ingin menyalahkan individu. Tetapi ini menjadi refleksi, apakah nilai kebangsaan, nilai kemanusiaan, dan semangat perjuangan sudah benar-benar tertanam sejak dini?” ujarnya.
Dalam paparannya di hadapan ratusan warga binaan, Agun mempertanyakan sejauh mana peran keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter kebangsaan generasi muda. Ia menilai pendidikan kebangsaan tidak cukup berhenti pada hafalan konsep atau penyampaian materi formal di ruang kelas.
Menurutnya, pendidikan harus menyentuh pembentukan mental, integritas, dan tanggung jawab moral sebagai warga negara.
“Kalau sejak sekolah sudah ditanamkan nilai perjuangan bangsa, nilai kemanusiaan, serta tanggung jawab sebagai warga negara, saya yakin tidak mudah seseorang bersikap pesimistis terhadap bangsanya sendiri,” katanya.
Agun juga menekankan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kecerdasan dan kapasitas yang tidak kalah dengan bangsa lain. Namun tanpa fondasi nilai yang kuat, kecerdasan tersebut bisa kehilangan arah dan tidak terhubung dengan kepentingan kolektif bangsa.
Agun mengakui bahwa sosialisasi Empat Pilar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—telah dilaksanakan secara rutin dan terprogram. Meski demikian, ia mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada formalitas administratif semata.
Agun juga menegaskan perlunya evaluasi terhadap efektivitas dan dampak nyata dari setiap sosialisasi yang dilakukan. “Jangan sampai hanya formalitas. Nilai-nilai itu harus hidup dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar disampaikan dalam forum,” tegasnya.
Menurut Agun, pendekatan yang terlalu seremonial berisiko membuat pesan kebangsaan terasa jauh dari realitas kehidupan masyarakat. Ia mendorong metode yang lebih dialogis dan partisipatif agar nilai-nilai kebangsaan benar-benar dipahami dan dihayati.
Dalam kesempatan itu, Agun juga menyampaikan pesan optimisme kepada para warga binaan. Agun menyebut setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri dan kembali berkontribusi positif bagi bangsa.
Agun menolak pandangan bahwa kesalahan masa lalu menjadi akhir dari segalanya.
“Semua manusia punya harapan. Yang membedakan adalah bagaimana pikiran, ucapan, dan perbuatannya bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Pengamat pendidikan yang dimintai tanggapan terpisah menilai pernyataan Agun relevan dengan kebutuhan evaluasi pendidikan karakter secara menyeluruh. Ia menyebut penguatan nasionalisme tidak cukup melalui ceramah atau slogan yang berulang.
Menurutnya, keteladanan pemimpin dan kebijakan yang adil justru menjadi fondasi utama agar masyarakat merasa dihargai.
BACA JUGA: Bupati Ciamis Ikuti Rakor Nasional, Perkuat Kesiapan Mudik Idul Fitri 1447
“Penguatan nasionalisme tidak cukup melalui ceramah atau slogan. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah keteladanan para pemimpin, kebijakan yang adil, serta ruang dialog yang sehat,” pungkas Agun.
Kegiatan di Lapas Banjar itu diakhiri dengan dialog interaktif bersama warga binaan. Agun menyatakan akan terus mendorong penguatan pendidikan kebangsaan secara lebih substantif agar optimisme dan persatuan nasional tidak sekadar menjadi jargon, melainkan menjadi kesadaran kolektif yang hidup dalam tindakan nyata. (Johan)
