Longsor Cilacap Renggut Satu Keluarga Perantau Asal Banjar
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Tragedi longsor yang terjadi di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyisakan duka mendalam bagi warga Kota Banjar. Satu keluarga perantau asal Banjar ditemukan meninggal dunia setelah rumah yang mereka tempati tertimbun material tanah akibat hujan deras berkepanjangan.
Musibah itu menimpa pasangan suami istri Dani dan Sartini, serta dua anak mereka, Rizki dan Pebri. Keempatnya diketahui merantau ke Cilacap untuk bekerja dan sudah tinggal di wilayah tersebut beberapa waktu terakhir. Menurut informasi keluarga, hujan intensitas tinggi mengguyur kawasan Majenang sejak sore hingga malam, membuat struktur tanah di perbukitan sekitar permukiman melemah dan akhirnya runtuh.
Tim SAR, relawan, dan aparat desa bergerak cepat sesaat setelah laporan diterima. Namun, proses pencarian tidak berlangsung mudah. Kondisi tanah yang labil, rembesan air, serta medan yang curam membuat petugas harus bekerja ekstra hati-hati. Setelah penyisiran dilakukan selama berjam-jam, seluruh anggota keluarga ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Mereka tertimbun material longsor yang menutup hampir seluruh bagian rumah.
Kabar duka tersebut segera sampai kepada keluarga besar yang berada di Kota Banjar. Di rumah duka, isak tangis pecah ketika informasi resmi disampaikan oleh kerabat yang berada di lokasi kejadian.
“Tidak ada satu pun yang selamat,” ujar salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar.
Jenazah keempat korban direncanakan dipulangkan ke kampung halaman di Desa Sinartanjung, Kota Banjar, untuk dimakamkan sesuai permintaan keluarga.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjar, Ruhimat, membenarkan bahwa keempat korban merupakan warga Banjar yang merantau.
“Mereka warga Sinartanjung yang merantau ke Cilacap,” katanya, Minggu (16/11/2025).
Ruhimat menambahkan, peristiwa tersebut menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk kembali memperhatikan kerentanan bencana di wilayah perbukitan yang rawan longsor, terutama saat curah hujan mulai meningkat.
Kepala Desa Sinartanjung, Asep Hendra Sugiharto, turut menyampaikan duka cita mendalam. Ia menjelaskan bahwa keluarga tersebut lahir dan besar di desanya, namun secara administrasi kependudukan mereka kini terdaftar di tempat tinggalnya di Cilacap.
“Mereka itu warga kami, tetapi data kependudukannya tercatat di desa tempat mereka tinggal sekarang dengan status sudah menikah. Jadi di administrasi Desa Sinartanjung memang tidak tercatat,” jelasnya.
Tragedi ini kembali menyoroti minimnya mitigasi bencana di kawasan dengan kontur tanah yang labil. Para ahli kebencanaan berulang kali mengingatkan bahwa ancaman longsor meningkat pesat saat intensitas hujan tinggi, terutama di daerah yang berada di lereng atau dekat tebing. Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda pergerakan tanah, seperti retakan baru, pohon miring, atau suara gemeretak dari lereng.
BACA JUGA: Pra Muslok ORARI Banjar Mantapkan Konsolidasi Organisasi
Selain itu, warga diimbau untuk segera melapor kepada aparat desa atau BPBD apabila melihat gejala-gejala mencurigakan di lingkungan sekitar. Kewaspadaan dini dianggap menjadi faktor penting untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan terdampak.
Melalui kejadian ini, pemerintah menegaskan pentingnya sinergi antara warga, pemerintah desa, hingga BPBD dalam upaya pengurangan risiko bencana. Edukasi kebencanaan dianggap perlu diperluas, mengingat banyak permukiman masih berada di zona rawan longsor. Tragedi di Cibeunying menjadi pengingat bahwa bencana dapat datang kapan saja, dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampaknya. (Johan)
