Berita Banjar

Upaya Cegah Resistensi Antimikroba di Kota Banjar

infopriangan.com, BERITA BANJAR. Upaya pencegahan resistensi antimikroba kembali menjadi perhatian serius setelah BPOM bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Banjar menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengendalian Resistensi Antimikroba pada Kamis (20/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Banjar ini disebut sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mengendalikan penggunaan antibiotik yang masih sering disalahgunakan.

Kepala Balai BPOM Tasikmalaya, Iltizam Nasrullah, menjelaskan bahwa resistensi antimikroba merupakan kondisi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau jamur tidak lagi merespons obat yang biasanya efektif. Menurutnya, hal ini terjadi terutama akibat penggunaan obat, khususnya antibiotik, yang tidak tepat.

“Jika antibiotik digunakan sembarangan, tanpa aturan dosis dan tanpa resep dokter, mikroba akan beradaptasi. Akibatnya, obat yang seharusnya dapat mengobati menjadi tidak lagi bekerja,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa praktik pembelian antibiotik tanpa resep dokter masih mudah ditemukan di lapangan. Banyak masyarakat yang menganggap antibiotik bisa digunakan untuk berbagai keluhan, padahal tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik.

“Masalahnya bukan hanya tentang obat yang salah, tetapi juga bagaimana kebiasaan ini mempercepat munculnya mikroba yang kebal,” katanya.

Iltizam juga menegaskan bahwa peran tenaga kesehatan sangat penting untuk melakukan edukasi sehingga masyarakat memahami risiko penggunaan obat yang tidak rasional.

Melalui Bimtek ini, BPOM dan Dinas Kesehatan berupaya memperkuat pemahaman tenaga kefarmasian, terutama apoteker penanggung jawab (APA) dan tenaga teknis kefarmasian (TTK). Para peserta diberikan materi seputar penggunaan antibiotik yang rasional, tata kelola pelayanan kefarmasian, serta kebijakan pemerintah dalam pengendalian resistensi antimikroba. Pendekatan ini bertujuan memastikan apotek dan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki standar yang sama dalam memberikan obat kepada masyarakat.

Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan pemilik sarana pelayanan kefarmasian dan perwakilan dinas kesehatan. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memastikan praktik penggunaan antibiotik dapat diawasi secara menyeluruh.

“Pengendalian resistensi tidak bisa dilakukan sebagian-sebagian. Semua instansi harus bekerja bersama, termasuk pemerintah daerah, BPOM, Dinas Kesehatan, apoteker, dan seluruh tenaga kesehatan,” ujar Iltizam dalam pemaparannya.

Melalui tema “Cegah Resistensi, Selamatkan Generasi”, kegiatan ini mendorong peningkatan kesadaran masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik tanpa dasar medis.

Pemerintah berharap edukasi yang diberikan tenaga kesehatan dapat menekan peredaran antibiotik ilegal dan mencegah masyarakat mengonsumsi obat secara sembarangan.

Selain itu, Bimtek ini juga berupaya memperkuat komitmen tenaga kefarmasian dalam memberikan pelayanan yang tepat, aman, dan bertanggung jawab.

BACA JUGA: Program Peningkatan Mutu Pendidikan Islam Dorong Terwujudnya Madrasah Unggul

Para peserta juga diajak untuk memahami dampak jangka panjang dari resistensi antimikroba. Bila mikroba kebal terus berkembang, banyak penyakit yang kini mudah diatasi bisa kembali menjadi ancaman serius. Tenaga kesehatan diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengedukasi pasien mengenai pentingnya mengikuti aturan pakai obat dan tidak menyimpan maupun memakai antibiotik yang tersisa dari resep sebelumnya.

Dengan adanya kegiatan seperti Bimtek ini, BPOM berharap Kota Banjar dapat menjadi contoh wilayah yang disiplin dalam penggunaan antimikroba. Edukasi, pengawasan, dan kolaborasi lintas sektor diyakini mampu meminimalkan risiko resistensi antimikroba serta memastikan kesehatan masyarakat tetap terlindungi untuk generasi mendatang. (Johan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *