Banjir Rendam 500 Hektar Sawah di Ciamis, Petani Merugi
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Ratusan hektar sawah di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, terendam banjir. Lebih dari 500 hektar lahan pertanian terdampak, menyebabkan kerugian besar bagi petani. Tanaman padi yang baru ditanam mati terendam air, memaksa petani menanam ulang dengan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Kepala Desa Purwajaya, Sanen, menilai bahwa banjir ini tidak hanya mengancam produktivitas pertanian, tetapi juga ketahanan pangan daerah. Ia menegaskan bahwa solusi utama adalah pengerukan sungai di hilir agar aliran air lebih lancar dan tidak kembali menggenangi sawah.
“Jika daerah hilir tidak dikeruk, air akan terus meluap dan menggenangi lahan pertanian. Ini harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya. Selasa, (18/02/2025).
Sanen menambahkan, banjir di wilayah ini bukan peristiwa baru, tetapi setiap tahun masalah ini terus berulang tanpa solusi konkret. Petani selalu menjadi pihak yang paling dirugikan, sementara upaya pencegahan masih minim.
Banyak petani yang baru saja menanam benih terpaksa mengulang seluruh proses tanam. Banjir yang berlangsung selama beberapa hari menyebabkan benih mati sebelum sempat tumbuh.
Seorang petani di Desa Purwadadi mengungkapkan rasa frustrasinya atas kejadian ini.
“Kami baru saja menanam padi, tapi semuanya terendam. Sekarang kami harus mulai dari nol lagi. Ini sangat melelahkan dan merugikan,” katanya.
Petani lain menambahkan bahwa banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Selain merendam tanaman yang baru ditanam, genangan air juga memperburuk kondisi tanah sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk bisa diolah kembali.
Sanen menjelaskan bahwa kerugian yang dialami petani bisa dihitung dalam jumlah besar. Setiap 100 ubin sawah membutuhkan biaya sekitar satu juta rupiah, termasuk untuk traktor dan tenaga kerja. Dengan luas lahan yang terendam mencapai 500 hektar, total kerugian petani sangat signifikan.
“Kami tidak hanya kehilangan hasil panen, tetapi juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli benih dan menyewa tenaga kerja,” ujarnya.
Sebagai langkah darurat, pemerintah telah menyalurkan bantuan benih kepada petani yang terdampak. Bantuan ini diharapkan bisa meringankan beban petani yang harus menanam ulang.
Sanen mengapresiasi upaya pemerintah, tetapi menekankan bahwa bantuan benih bukan solusi jangka panjang. Ia berharap ada tindakan nyata untuk mengatasi penyebab utama banjir agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Kami berterima kasih atas bantuan benih dari Kementerian Pertanian. Tapi ini bukan solusi permanen. Tanpa pengerukan sungai, tahun depan kemungkinan besar kami akan mengalami hal yang sama lagi,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa kelompok tani telah mengajukan permohonan bantuan tambahan, termasuk alat pertanian dan subsidi pupuk untuk meringankan beban mereka. Namun, yang paling mendesak adalah percepatan pengerukan daerah hilir agar aliran air lebih terkendali.
Seorang ahli pengelolaan sumber daya air menegaskan bahwa tanpa pengerukan, masalah banjir di wilayah ini tidak akan pernah selesai.
“Jika aliran air tersumbat, maka risiko banjir akan terus ada. Pengerukan harus segera dilakukan dengan dukungan dana dari APBN,” jelasnya.
Pemerintah daerah, provinsi, dan pusat harus berkoordinasi untuk memastikan bahwa mitigasi banjir bisa berjalan efektif. Tanpa kerja sama yang baik, setiap tahun petani akan terus mengalami kerugian akibat genangan air yang merusak sawah mereka.
Sanen menegaskan bahwa pengerukan hilir hanyalah salah satu solusi. Selain itu, penguatan infrastruktur pertanian dan sistem drainase juga harus menjadi prioritas agar aliran air bisa dikendalikan dengan lebih baik
BACA JUGA: FPI Desak DPRD Ciamis Tolak Status PSN PIK 2
Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga berkomitmen pada solusi yang lebih permanen. Jika langkah-langkah strategis ini bisa diterapkan dengan baik, maka petani tidak perlu lagi mengalami kerugian setiap musim hujan.
“Kami butuh kepastian, bukan sekadar bantuan sementara. Jika solusi permanen diterapkan, Ciamis bisa lebih siap menghadapi banjir di masa mendatang,” pungkasnya. (Rizky, Revan/infopriaangan.com)
