Hama Tikus Serang Sawah Mekarbuana, Panen Terancam
infopriangan com, BERITA CIAMIS. Hama tikus kembali menyerang sawah petani di Dusun Cogreg, Desa Mekarbuana, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Serangan ini sudah berlangsung sekitar satu setengah bulan dan mengancam dua hektare lahan sawah yang sedang dalam masa pertumbuhan. Jika tidak segera ditangani, petani terancam gagal panen.
Untuk mengatasi serangan hama ini, petani setempat mulai memasang perangkap tikus secara mandiri. Mereka berharap cara ini bisa mengurangi jumlah tikus yang merusak tanaman padi. Namun, metode ini dinilai belum cukup efektif mengingat populasi tikus yang terus bertambah. Jumat, (07/02/2025).
Kepala Desa Mekarbuana, Ade Sambas, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, tikus menyerang dalam jumlah besar, memakan batang dan bulir padi yang baru mulai berisi. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya hasil panen yang menurun, tetapi mereka juga bisa mengalami kerugian besar.
“Kami sudah berusaha memasang perangkap, tapi jumlah tikusnya terlalu banyak. Kalau terus seperti ini, kami bisa gagal panen,” ujarnya.
Serangan hama tikus memang menjadi ancaman serius bagi petani. Tidak hanya di Mekarbuana, masalah serupa juga sering terjadi di berbagai daerah. Selain memasang perangkap, petani biasanya melakukan perburuan massal atau gropyokan, menggunakan racun tikus, dan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami. Namun, tanpa dukungan dari pemerintah, upaya petani ini sering kali tidak membuahkan hasil maksimal.
Ade Sambas berharap ada tindakan konkret dari pemerintah melalui dinas pertanian atau instansi terkait. Menurutnya, penanganan hama tikus tidak bisa hanya mengandalkan petani saja.
“Kami butuh bantuan, apakah itu berupa alat perangkap, penyemprotan, atau metode lain yang lebih efektif. Kalau dibiarkan, petani yang akan menanggung kerugian,” katanya.
Hingga saat ini, pemerintah memang sudah memiliki berbagai program pengendalian hama. Namun, dalam banyak kasus, program ini kurang menyentuh petani secara langsung atau tidak berjalan optimal di lapangan.
Petani Mekarbuana menilai, selama ini mereka lebih banyak mengandalkan cara tradisional untuk mengatasi serangan hama. Sementara itu, bantuan dari pemerintah sering kali datang terlambat atau tidak sesuai kebutuhan.
Salah satu masalah utama dalam penanggulangan hama tikus adalah ketidaktersediaan alat dan bahan yang memadai. Banyak petani yang kesulitan mendapatkan racun tikus yang efektif, sementara perangkap yang mereka buat sendiri tidak cukup untuk mengatasi populasi tikus yang berkembang pesat.
Ketua kelompok tani setempat juga menyoroti perlunya penyuluhan dan pendampingan dari pemerintah. Menurutnya, banyak petani yang masih belum mengetahui cara pengendalian hama yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
“Kami butuh solusi yang benar-benar bisa diterapkan di lapangan, bukan hanya teori. Kalau ada penyuluhan atau bantuan alat, tentu akan sangat membantu,” ujarnya.
Selain itu, petani juga mengusulkan adanya gerakan bersama untuk menangani hama tikus secara lebih masif. Misalnya, dengan mengoordinasikan penyemprotan atau pemberantasan tikus dalam skala luas, sehingga hasilnya lebih efektif dibandingkan upaya individu yang dilakukan sendiri-sendiri.
Pemerintah daerah diharapkan lebih responsif terhadap masalah ini. Jangan sampai petani harus terus berjuang sendiri menghadapi hama tanpa ada dukungan yang memadai. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya petani yang merugi, tetapi ketahanan pangan di daerah juga bisa terganggu.
Pengendalian hama tikus membutuhkan langkah yang sistematis dan berkelanjutan. Pemerintah tidak cukup hanya memberikan imbauan atau sekadar melakukan inspeksi ke lapangan. Diperlukan kebijakan yang lebih konkret, mulai dari penyediaan alat perangkap, pemberian bantuan racun tikus, hingga edukasi mengenai metode pengendalian hama yang lebih efektif.
BACA JUGA: Pegawai Outsourcing DPRD Banjar Kecewa Belum Digaji
Petani juga perlu didorong untuk menerapkan metode pengendalian hama yang lebih modern dan ramah lingkungan. Penggunaan burung hantu sebagai predator alami, misalnya, bisa menjadi solusi jangka panjang yang efektif tanpa merusak ekosistem.
Selain itu, kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pihak terkait lainnya harus diperkuat. Dengan kerja sama yang baik, serangan hama tikus bisa dikendalikan, sehingga petani tidak perlu khawatir gagal panen setiap musim.
Serangan hama tikus di Dusun Cogreg, Mekarbuana, bukanlah masalah sepele. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa meluas dan merugikan banyak petani. Pemerintah harus segera turun tangan dan memastikan bahwa petani mendapat bantuan yang mereka butuhkan. Jangan sampai para petani yang sudah bekerja keras justru harus menanggung kerugian akibat kurangnya dukungan dalam menghadapi hama. (Edy/infopriangan.com)
