Leuwi Pamipiran Jadi Wisata Alam Favorit di Ciamis
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Objek wisata alam Leuwi Pamipiran yang berada di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, kini semakin populer. Kejernihan aliran Sungai Cipanyesehan, udara yang sejuk, serta panorama alami menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan, baik dari sekitar Ciamis maupun dari luar daerah.
Pesona alam yang masih asri memberi pengalaman berbeda bagi mereka yang ingin menikmati suasana tenang sekaligus segar.
Masyarakat setempat mengenal Leuwi Pamipiran dari cerita turun-temurun. Muslih Udin,
Ketua Kelompok Pengelola Wisata Bubuay Ligar, menuturkan bahwa nama Pamipiran muncul dari kebiasaan warga tempo dulu. Saat menyeberangi sungai dengan arus deras, warga lebih memilih berjalan di tepian. Dalam bahasa Sunda, aktivitas itu disebut mipir. Dari situlah nama Pamipiran melekat hingga kini. Selain kisah asal-usul nama, Sungai Cipanyesehan juga menyimpan legenda tentang Nyai Putri, seorang tokoh perempuan yang diyakini pernah singgah dan beristirahat di kawasan tersebut. Cerita rakyat ini tetap hidup di tengah masyarakat Tanjungsari sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Sejak resmi dibuka pada 2024, kawasan ini tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena cerita mistis yang mengiringinya. Warga meyakini adanya peristiwa yang dianggap sebagai pertanda berkah.
Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah pengalaman seorang pengunjung asal Tasikmalaya. Ia disebut-sebut kembali bisa berjalan setelah merendam diri di aliran sungai selama tiga jam. Peristiwa tersebut membuat sebagian masyarakat menyamakan air Leuwi Pamipiran dengan air Zamzam yang diyakini membawa keberkahan.
Kisah semacam ini memang sulit dibuktikan secara ilmiah, namun keyakinan tersebut menjadi bagian dari daya tarik wisata yang memadukan keindahan alam dengan tradisi dan mitos.
Pengelolaan Leuwi Pamipiran dilakukan melalui kemitraan antara masyarakat dan Perhutani sejak 2024. Dukungan pemerintah desa mempercepat pembangunan fasilitas penunjang, seperti gazebo, musala, kamar mandi, serta penyediaan pelampung keselamatan.
Dengan tiket masuk Rp5.000 per orang dan biaya parkir Rp3.000, kawasan ini ramai dikunjungi. Setiap akhir pekan rata-rata 200 wisatawan datang, sementara pada hari biasa sekitar 30 hingga 50 orang. Kehadiran wisatawan memberi dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar. Mulai dari usaha warung kecil, jasa ojek, hingga pengelolaan parkir, semua mendapat manfaat dari perkembangan wisata ini.
Muslih Udin menyampaikan rasa syukurnya atas perkembangan tersebut. Ia menegaskan bahwa Leuwi Pamipiran kini menjadi aset bersama.
“Kami berharap sinergi dengan semua pihak terus terjalin agar kawasan ini semakin maju dan menjadi kebanggaan Ciamis,” ujarnya.
BACA JUGA: Puskesmas Cikoneng Gelar BIAS di 14 Sekolah, Sasar 464 Siswa
Rencana ke depan tidak berhenti pada fasilitas sederhana. Pengelola bersama Perhutani serta Pemerintah Desa Tanjungsari menargetkan kawasan ini berkembang menjadi desa wisata. Pembangunan akses jalan, bumi perkemahan, arboretum hutan pendidikan, hingga wahana air sudah masuk dalam konsep pengembangan. Rusdiana dari Perhutani menyebut bahwa Tanjungsari merupakan salah satu destinasi paling potensial dibandingkan dengan objek wisata lain yang mereka kelola. Menurutnya, pola pengelolaan dilakukan melalui kemitraan sesuai Peraturan Direksi Nomor 21 Tahun 2023. “Sinergi ini tidak hanya mendorong manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga kearifan lokal,” ungkapnya.
Meski begitu, akses jalan menuju lokasi masih menjadi tantangan. Kendaraan roda empat cukup sulit menjangkau area wisata. Perhutani bersama masyarakat berkomitmen memperbaiki infrastruktur agar wisatawan lebih mudah berkunjung. Rusdiana menambahkan bahwa potensi yang dimiliki Tanjungsari sangat besar. Jika dikelola secara maksimal, Leuwi Pamipiran diyakini dapat menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Ciamis yang mengangkat ekonomi sekaligus melestarikan budaya lokal. (Eddy, infopriangan.com)


