Berita Ciamis

Meski Kalah, Nanang Tetap Suarakan Restorasi PGRI

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Nanang Heryanto menyatakan tetap akan melanjutkan perjuangan restorasi organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Ciamis meskipun gagal terpilih dalam pemilihan kepengurusan yang baru. Ia menegaskan bahwa posisi bukan satu-satunya cara untuk berkontribusi bagi perubahan.

“Kami kalah, tapi tidak akan diam. Perjuangan untuk mengembalikan marwah PGRI tetap saya lanjutkan, meskipun dari luar struktur,” ujar Nanang saat ditemui di kediamannya. Minggu, (6/7/2025).

IMG-20260217-WA0014

Sebagai salah satu kandidat yang dikenal membawa gagasan restoratif, Nanang mengaku tidak bergabung dalam kepengurusan baru karena menilai ruang bagi ide-ide pembaruan belum mendapat tempat yang memadai. Baginya, perubahan sejati memerlukan keberanian untuk mengubah pola pikir lama yang terlalu birokratis dan kurang progresif.

Nanang melihat PGRI saat ini menghadapi tantangan serius, terutama dalam aspek kaderisasi. Ia menyebutkan bahwa proses regenerasi kerap hanya bersifat kosmetik, sekadar mengganti nama dan wajah, tanpa menyentuh substansi perjuangan.

“Yang kita butuhkan adalah kader militan. Kader yang punya komitmen, yang tidak hanya hadir saat seremoni, tapi juga bergerak nyata untuk membela kepentingan guru,” ujarnya.

Ia mengkritik pola kaderisasi yang tidak menghasilkan pemimpin-pemimpin ideologis. Menurutnya, tanpa dasar idealisme yang kuat, PGRI mudah diintervensi oleh kekuatan di luar organisasi, termasuk birokrasi dan politik praktis.

“Kalau organisasi ini kehilangan jiwanya, maka cepat atau lambat hanya akan jadi alat kekuasaan. Itu sangat berbahaya,” tegasnya.

Nanang juga menyoroti fenomena kader yang vokal saat berada di luar, namun berubah pasif setelah masuk struktur. Ia menyebut hal ini sebagai bentuk inkonsistensi yang harus dikoreksi. Senin, (07/07/2025).

“Kalau berani bicara kebenaran saat di luar, maka harus lebih berani lagi saat berada di dalam. Jangan malah diam ketika diberi jabatan,” sindirnya.

Selain itu, Nanang meminta semua pihak untuk menjaga etika selama proses organisasi berlangsung. Ia mengaku prihatin atas adanya penyebaran informasi yang dinilainya menyesatkan selama masa pemilihan. Ia berharap pihak-pihak yang merasa terlibat bersedia memberikan klarifikasi terbuka.

“Ini bukan tentang saya secara pribadi. Ini soal menjaga etika, soal integritas organisasi. Jangan biasakan membenarkan cara-cara keliru demi menang,” katanya.

Meski tidak berada di dalam struktur, Nanang memastikan akan terus mengawal agenda-agenda perubahan. Ia berkomitmen untuk tetap menyuarakan pentingnya reformasi internal PGRI, baik melalui forum-forum resmi maupun kanal alternatif yang tetap dalam koridor organisasi.

“Restorasi tidak harus selalu dari dalam. Dari luar pun kita bisa mendorong perubahan. Jabatan bukan satu-satunya alat perjuangan,” katanya dengan nada tegas.

Nanang juga menyampaikan harapannya agar pengurus baru benar-benar bekerja untuk membela kepentingan guru, bukan untuk memperluas pengaruh pribadi atau golongan tertentu.

BACA JUGA: Wisatawan Bandung Tenggelam di Pantai Garut

“Kalau jabatan hanya digunakan untuk eksistensi pribadi, maka organisasi ini tidak akan pernah kuat. Kita butuh kepemimpinan yang melayani, bukan yang ingin dilayani,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Nanang mengajak seluruh elemen PGRI untuk kembali kepada perjuangan awal, yakni menjadi garda terdepan dalam membela hak dan martabat guru.

“PGRI adalah rumah besar guru. Jangan biarkan rumah ini dirusak oleh ambisi sesaat dan kepentingan sempit. Kita harus bersatu menjaga integritas organisasi ini,” pungkasnya. (Gani/ infopriangan.com)

IMG-20260217-WA0014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *