Berita Ciamis

Perpisahan Dapur MBG dengan Siswa SMAN 1 Banjarsari

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Asnal Mutholib Ratawangi di SMAN 1 Banjarsari resmi berakhir setelah berjalan selama tiga minggu. Perjalanan singkat itu ternyata menyisakan kesan mendalam, baik bagi pihak dapur maupun para siswa yang sempat merasakan manfaatnya.

Melalui akun resmi TikTok, pihak dapur menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus perpisahan kepada para siswa. Dalam unggahan tersebut, terlihat jelas bagaimana apresiasi siswa selama tiga minggu terakhir menjadi sesuatu yang membekas di hati tim dapur. “Kami sangat berterima kasih atas respon positif dari para siswa. Dukungan dan apresiasi kalian membuat kami semakin bersemangat dalam menjalankan program ini,” demikian salah satu kutipan yang dituliskan pihak dapur.

Respon siswa bermunculan. Ada yang menulis komentar bernada kecewa, ada pula yang mengungkapkan rasa sedih karena harus berpisah. Ikatan emosional yang terjalin ternyata tidak sekadar soal makanan, melainkan juga soal perhatian dan kedekatan yang terbangun selama program berlangsung.

Pemilik Dapur MBG Yayasan Asnal Mutholib Ratawangi, Nurhabibah, mengungkapkan alasan di balik penghentian distribusi. Ia menegaskan bahwa program tersebut berhenti bukan karena masalah kualitas ataupun kendala internal, melainkan karena adanya kebijakan peralihan.

“SMAN 1 Banjarsari akan menerima pasokan MBG dari dapur lain yang lokasinya lebih dekat dengan sekolah. Hal ini sudah menjadi ketentuan program,” jelasnya.

Ia pun menuturkan rasa syukurnya bisa pernah terlibat melayani para siswa. Menurutnya, pengalaman itu memberikan pelajaran penting sekaligus memperkaya perjalanan dapur dalam menjalankan misi sosial.

“Untuk yang terakhir, kami atas nama SPPG undur diri. Kami senang sudah pernah menjadi bagian dari sekolah ini, meskipun hanya sebentar,” ungkapnya dengan nada penuh kehangatan.

Nurhabibah tidak menutupi perasaan sedih yang ia alami. Ia mengaku kehilangan karena selama tiga minggu, banyak siswa yang menjalin komunikasi langsung dengan pihak dapur. Ada yang mengirim pesan melalui media sosial, ada pula yang menuliskan surat ucapan terima kasih.

“Secara pribadi memang ikut sedih, apalagi chemistry antara kami sudah terjalin. Namun apa boleh buat, karena ini sudah menjadi ketentuan program,” katanya.

Di balik perasaan kehilangan itu, Nurhabibah tetap menyampaikan pesan penuh semangat kepada para siswa. Ia berharap agar mereka tidak merasa kecewa ataupun patah semangat dengan adanya peralihan dapur penyedia makanan.

“Karena sejatinya semua dapur punya tujuan dan komitmen yang sama, yaitu memberikan makan bergizi yang berkualitas baik dan enak untuk dikonsumsi. Jadi jangan khawatir, kalian tetap akan mendapatkan makanan bergizi dengan kualitas yang sama,” pungkasnya.

BACA JUGA: Desa Saguling Gelar Acara Budaya “Ngarumat Jagat Bebenah Lembur”

Cerita tiga minggu kebersamaan itu menjadi pengingat bahwa sebuah program sosial tidak hanya soal distribusi bantuan, tetapi juga soal nilai kemanusiaan yang tercipta di dalamnya. Bagi siswa, perpisahan dengan Dapur Asnal Mutholib mungkin meninggalkan kesedihan, namun juga memberi pelajaran bahwa setiap perubahan membawa kesempatan baru.

Bagi pihak dapur, pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian bisa menumbuhkan ikatan emosional yang kuat. (Revan,Rizky/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *