Sekda Ciamis Tekankan Kolaborasi Atasi Stunting
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triadi, menegaskan bahwa percepatan penurunan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama masyarakat. Hal tersebut disampaikan Andang usai menghadiri rapat koordinasi percepatan penanganan stunting di Ciamis.
Menurutnya, upaya eliminasi stunting di Kabupaten Ciamis mulai terarah sejak tahun 2020. Saat itu pemerintah pusat menargetkan prevalensi stunting nasional sebesar 14 persen. Namun, berdasarkan data terbaru, angka stunting di Ciamis masih berada di kisaran 20,4 persen.
“Data kita sudah ada, tinggal bagaimana eksekusinya. Pencegahan, pengobatan, dan intervensi bagi anak yang sudah stunting sudah terdefinisi jelas. Bahkan kebutuhan anggaran per anak per bulan sudah dihitung, baik dari APBD maupun sumber lain seperti zakat dan CSR,” ujar Andang. Senin, (29/09/2025).
Andang menekankan, penanganan stunting tidak hanya berbicara soal data, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran duta stunting dan duta genre yang dapat membantu menyosialisasikan gerakan zero new stunting di masyarakat.
“Duta itu bisa mengajak. Bisa mengajak pemerintah, mengajak masyarakat, dan menjadi teladan bagi generasi muda. Mereka adalah simbol anak sehat yang memotivasi ibu-ibu untuk mencetak generasi sehat,” ucapnya.
Selain mengandalkan peran duta, strategi lain yang terus ditekankan adalah penguatan ketahanan pangan keluarga. Andang menilai, pemanfaatan pekarangan rumah untuk peternakan dan pertanian skala kecil bisa menjadi langkah sederhana namun efektif.
“Masalah signifikan masih terjadi pada kekurangan energi kronis, terutama pada ibu hamil. Untuk itu, kita perlu menggalakkan penyediaan protein hewani. Program sederhana seperti berbagi telur, ayam, dan hasil ternak bisa menjadi solusi nyata,” jelasnya.
Andang juga mengingatkan pentingnya kolaborasi semua pihak, mulai dari perangkat daerah, organisasi masyarakat, dunia usaha, hingga lembaga keagamaan. Menurutnya, penanganan stunting bukan hanya urusan kesehatan, tetapi menyangkut pendidikan, kesejahteraan sosial, hingga pola konsumsi masyarakat.
BACA JUGA: Puskesmas Legokjawa Hadirkan Program Jemput Bola
Melalui rapat koordinasi tersebut, pemerintah menyepakati perlunya penyamaan data agar intervensi bisa lebih tepat sasaran. Data yang sinkron diharapkan dapat memperkuat perencanaan program dan menghindari tumpang tindih.
“Intervensi harus terukur. Kita punya waktu empat bulan ke depan untuk menggenjot program-program penanganan stunting. Saya yakin kalau dilakukan secara kolaboratif, target penurunan stunting bisa tercapai,” pungkasnya.
Gerakan menuju zero new stunting di Ciamis diharapkan tidak hanya sebatas slogan, tetapi betul-betul diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Dengan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, duta stunting, lembaga pendidikan, hingga keluarga, cita-cita menghadirkan generasi Ciamis yang sehat, cerdas, dan bebas stunting diyakini dapat terwujud. (Eddy/ infopriangan)
