Berita Ciamis

Sepintas Cerita Mahkota Binokasih

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Untuk penobatan Raja Galuh Prabu Niskala Wastu Kancana pada tahun 1371 (Kawali, sekarang). Sanghyang Bunisora Suradipati membuatkan sebuah mahkota Binokasih.

Karena Pajajaran mendapat serangan pasukan Islam dari Cirebon, Banten, dan Demak. Prabu Siliwangi menunjuk empat orang, dengan istilah Kandaga Lante, untuk
memindahkan pusaka Mahkota Binokasih ke Sumedang.

Kerajaan Sumedang Larang dipilih karena kerajaan tersebut masih bawahan dari Pajajaran, dengan kata lain Sumedang larang menjadi keturunan atau pewaris daripada Kerajaan Pajajaran.

Dipilihnya Sumedang Larang untuk meneruskan kekuasaan lain bukan karena Kerajaan tersebut sudah menganut agama Islam
sehingga tidak mengalami penyerangan dari pasukan gabungan Islam.

Pemimpin Sumedang pada saat itu adalah Pangeran Angkawijaya, lebih terkenal dengan nama Prabu Geusan Ulun.

Penyerahan mahkota ini pada hakekatnya berarti Sumedang Larang menjadi penerus Pajajaran.

Mahkota Binokasih yang digunakan pada tahun 1578 untuk pelantikan Prabu Geusan Ulun menjadi Prabu atau Raja Sumedang Larang.

Arti dari nama Binokasih adalah membina kehidupan rumah tangga agar lebih baik sedangkan istilah Sanghyang Pake makna bahwa mahkota ini merupakan tutup kepala yang dipakai oleh seseorang yang dimuliakan (sanghyang).

Mahkota terbuat dari emas 18 karat bagian lapisan beludru di dalamnya. Bentuk Mahkota mengikuti Batara Indra pewayangan.

Penutup kepala sebatas dahi berbentuk silinder merupakan bagian utama mahkota.

Ujung atas atau disebut kuluk dihiasi dengan kuncup bunga teratai.Bagian atas, permukaannya bermotif tumpal dan suluran daun, dan bagian bawah merupakan kain berhias terawangan motif suluran daun dan bunga.Bagian turidha (jamang sada seler) / bagian depan berbentuk kelopak bunga dihiasi batu giok berwarna hijau.

Bagian atas turidha terlihat 2 buah jamang yaitu mahkota berbentuk bunga.Bagian kanan kiri mahkota disebut kuluk /pelipis,dihiasi ron/hiasan bersusun tiga (timpal).

BACA JUGA: Kwalitas Pekerjaan Jalan Kawunglarang – Janggalaharja Patut Dipertanyakan

Hiasan tersebut berbentuk bermacam-macam, antara lain ikan dan biji mentimun. Bagian belakang ron terdapat sumping atau hiasan bersusun tiga membentuk sayap.

Pada bagian belakang kuluk dihias bentuk daun dan garuda mungkur atau disebut jungkat penata. (Sari/IP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *