Berita Garut

SPPG MBG Lumbung Cisompet Garut Dihentikan Sementara

infopriangan.com, BERITA GARUT. Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau lebih dikenal sebagai Dapur MBG Lumbung di Desa Cisompet, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, resmi dihentikan sementara. Padahal program tersebut baru berjalan kurang dari dua bulan sejak peresmian.

Kepala SPPG Lumbung Cisompet, Irpan Kusaeri, S.Kom., menegaskan bahwa penghentian ini tidak bersifat permanen. Irpan menjelaskan, keputusan itu mulai berlaku Selasa, 30 September 2025, dan belum bisa dipastikan kapan berakhir. “Penghentian ini sementara saja. Kami masih menunggu arahan lebih lanjut dari pusat,” ujar Irpan dalam keterangannya di Cisompet. Senin, (29/9/2025).

IMG-20260217-WA0014

Menurut Irpan, langkah ini merupakan tindak lanjut instruksi Badan Gizi Nasional (BGN) yang menghendaki seluruh dapur SPPG melengkapi administrasi dan sertifikasi sesuai ketentuan. Tanpa hal tersebut, operasional dapur tidak diperbolehkan dilanjutkan.

“Kami memohon maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan ini. Kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung jalannya program sejak awal,” kata dia.

Meski demikian, penghentian mendadak ini menimbulkan reaksi beragam dari orang tua siswa. Sebagian merasa khawatir karena sebelumnya sempat muncul kabar adanya dugaan keracunan makanan bergizi (MBG) di beberapa daerah lain. Rasa cemas itu menular hingga ke masyarakat Cisompet yang selama ini menerima manfaat program.

Salah seorang orang tua murid, Iis, mengaku lebih setuju apabila bantuan diberikan dalam bentuk tunai. Menurutnya, cara tersebut akan memberi keleluasaan bagi keluarga dalam menyiapkan makanan sesuai kebutuhan anak.

“Lebih baik kalau uangnya disalurkan saja, biar ibunya yang masak. Bisa juga melalui sekolah supaya lebih jelas,” ujarnya.

Pendapat tersebut diamini beberapa wali murid lainnya. Mereka beralasan, orang tua tentu lebih memahami selera dan kebutuhan gizi anak masing-masing. Selain itu, memasak sendiri dinilai lebih aman karena bisa dipastikan bahan dan proses pengolahannya.

Di sisi lain, ada pula masyarakat yang menyayangkan penghentian sementara ini. Mereka menilai program MBG cukup membantu, terutama bagi siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

“Program ini sebenarnya baik. Hanya saja, memang perlu ada jaminan keamanan dan pengawasan yang lebih ketat,” kata salah seorang tokoh setempat.

Penghentian ini juga dinilai menjadi momentum evaluasi. Pengamat pendidikan dan kesehatan masyarakat di Garut menilai, perbaikan harus menyeluruh, bukan hanya sebatas administrasi.

“Keamanan pangan, kualitas gizi, hingga transparansi pengelolaan harus dipastikan. Program gizi untuk anak sekolah tidak boleh setengah-setengah,” ungkapnya.

Instruksi BGN yang mewajibkan sertifikasi dan kelengkapan dokumen dinilai sebagai langkah standar untuk memperkuat legalitas program. Namun realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan. Banyak dapur SPPG yang belum siap, sehingga program harus dihentikan sementara. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada siswa penerima manfaat.

BACA JUGA: Sekda Ciamis Tekankan Kolaborasi Atasi Stunting

Bagi masyarakat Cisompet, konsekuensi penghentian ini cukup terasa. Anak-anak yang biasanya mendapat tambahan gizi harian dari program, kini kembali sepenuhnya bergantung pada konsumsi rumah tangga. Bagi keluarga dengan keterbatasan, hal ini menjadi tantangan baru.

Meski demikian, sebagian pihak menaruh harapan agar penghentian ini hanya sementara dan bisa kembali berjalan setelah evaluasi selesai. Mereka berharap program ke depan lebih transparan, aman, serta melibatkan pengawasan orang tua secara langsung. Dengan demikian, tujuan utama peningkatan gizi anak sekolah tetap tercapai tanpa menimbulkan keresahan. (Liklik)

IMG-20260217-WA0014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *