Berita Garut

Sungai Cisanggiri Krisis Ikan, Ekosistem Terancam

infopriangan.com, BERITA GARUT.  Sungai Cisanggiri, salah satu sungai terbesar dan paling deras di Kabupaten Garut, kini menghadapi krisis ekologis. Sungai yang dahulu dikenal kaya akan ragam ikan khas lokal kini sepi, bahkan nyaris tak menyisakan kehidupan bawah air yang berarti.

Keunikan Sungai Cisanggiri tidak hanya terletak pada arus derasnya, tetapi juga pada fakta bahwa airnya tidak dimanfaatkan warga untuk mengairi sawah, kolam, atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Namun, berdasarkan penuturan sejumlah warga dan tokoh masyarakat, sungai ini dulunya menjadi sumber penghidupan karena ikan-ikannya yang melimpah.

Hulu sungai ini berada di Kampung Sodong, Kecamatan Banjarwangi, lalu mengalir melewati wilayah Kecamatan Cihurip dan Cisompet, dan akhirnya bermuara di Kampung Cibaregbeg, Kecamatan Cibalong. Di sepanjang alirannya, kerusakan lingkungan kian terasa.

Sejumlah aktivis lingkungan angkat bicara. Mereka menilai situasi ini sudah masuk kategori darurat dan menuntut pemerintah daerah bertindak tegas.

“Saya sangat prihatin. Sungai Cisanggiri dulu adalah kebanggaan warga. Sekarang? Ikan-ikannya tinggal nama,” ujar Ebit Mulyana, aktivis lingkungan yang juga politikus dari Partai NasDem, saat ditemui di Garut, Senin (7/5/2025).

Ebit menyebutkan beberapa jenis ikan khas yang hampir punah, seperti ikan Sidat (Anguilla), yang lebih dikenal warga dengan sebutan ikan lubang. Selain itu, ada pula ikan Menga (Mugil cephalus) dan ikan Corencang (Selaroides leptolepis).

“Jenis-jenis ikan ini dulunya bisa ditemukan dengan mudah di sepanjang sungai. Tapi sekarang, sangat sulit, bahkan sudah hampir tidak ada lagi,” tegasnya.

Menurut Ebit, penyebab utama kelangkaan ikan tersebut adalah aktivitas ilegal yang dilakukan sebagian warga. Ia menyebut ada praktik penangkapan ikan dengan cara meracuni dan menyetrum, terutama saat musim kemarau ketika debit air menurun.

“Ini tindakan yang tidak hanya melanggar hukum, tapi juga menghancurkan ekosistem sungai. Habitat ikan rusak, biota air musnah,” katanya.

Sikap serupa disampaikan Mahmud Asyari, S.Pd., M.Pd., aktivis lingkungan sekaligus pendiri organisasi pemuda “Bina Muda” yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

“Kami sudah berulang kali menyuarakan kondisi ini, baik kepada warga maupun pemerintah. Tapi sampai hari ini, tindakan nyata dari pihak berwenang belum terlihat,” ujar Mahmud.

Ia menambahkan bahwa kerusakan Sungai Cisanggiri tidak hanya akan berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat memicu bencana lingkungan yang lebih luas.

“Keseimbangan ekosistem terganggu. Kalau dibiarkan, akan muncul masalah-masalah baru, seperti penurunan kualitas air, longsor bantaran, bahkan krisis air bersih di masa depan,” katanya.

Mahmud menegaskan bahwa pelestarian sungai bukan hanya tanggung jawab aktivis, melainkan juga tugas pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan.

“Kami berharap pemerintah segera menetapkan kebijakan perlindungan sungai, memperketat pengawasan, dan memberikan edukasi kepada warga,” pintanya.

Sementara itu, warga di sekitar bantaran sungai mengaku sebagian besar sudah tidak lagi menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan. “Dulu mah tiap sore bisa bawa pulang ikan dari sungai. Sekarang, jangankan ikan, suara percik airnya aja sudah beda,” ujar Darman (52), warga Kampung Cihurip.

BACA JUGA: Menteri ATR Minta Sumut Percepat Penyusunan RDTR

Kondisi Sungai Cisanggiri hari ini menjadi cermin dari persoalan lingkungan yang sering kali diabaikan. Jika tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin ekosistem sungai ini akan benar-benar punah dalam waktu dekat.

Pemerintah Kabupaten Garut hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait kondisi tersebut. Namun para aktivis menegaskan bahwa mereka akan terus bersuara dan mendesak aksi nyata.

“Ini bukan soal nostalgia tentang sungai yang dulu. Ini soal tanggung jawab kita semua menjaga alam agar tidak tinggal cerita,” tutup Ebit. (Liklik/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *