Berita Garut

Tiga Kecamatan di Garut Jadi Fokus Pengembangan Jagung

infopriangan.com, BERITA GARUT. Kabupaten Garut terus menggenjot ketahanan pangan dengan memproyeksikan tiga kecamatan sebagai wilayah pengembangan komoditas jagung pada tahun anggaran 2025. Tiga wilayah tersebut adalah Kecamatan Cisompet, Cikelet, dan Selaawi.

Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Pertanian (Dispertan) Garut, Ardhy Firdian, mengatakan pemilihan tiga kecamatan tersebut dilakukan berdasarkan berbagai pertimbangan teknis.

“Wilayah-wilayah ini memenuhi syarat untuk pengembangan tanaman jagung, baik dari segi lahan, kondisi tanah, maupun potensi produksi,” kata Ardhy.

Menurutnya, pengembangan jagung menjadi salah satu program strategis Dispertan Garut dalam mendukung ketahanan pangan dan swasembada komoditas pertanian.

Dispertan Garut menargetkan pembukaan lahan produktif seluas 371 hektare pada 2025. Dari luas tersebut, 307 hektare dialokasikan untuk padi dan 64 hektare untuk jagung. Ardhy menjelaskan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan calon petani dan calon lokasi (CPCL) yang akan masuk dalam program tersebut.

“Untuk padi, kami fokuskan di Kecamatan Bungbulang. Sementara untuk jagung, kami optimalkan di Cisompet, Cikelet, dan Selaawi,” ujarnya.

Ardhy menambahkan, program ini tidak hanya berorientasi pada pembukaan lahan baru, tetapi juga pemanfaatan lahan yang selama ini belum tergarap secara maksimal.

“Kami melihat masih banyak lahan di sela-sela tanaman keras atau tanaman tahunan yang belum menghasilkan. Ini bisa dimanfaatkan untuk pengembangan jagung tanpa mengganggu tanaman utama,” jelasnya.

Saat ini, tim dari Dispertan Garut sedang melakukan identifikasi dan verifikasi lapangan guna memastikan lahan yang dipilih benar-benar potensial dan produktif.

Ardhy menekankan bahwa program ini bukan sekadar proyek pembukaan lahan, tetapi juga upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat setempat.

“Kalau pengelolaannya baik, jagung bisa menjadi komoditas unggulan yang memberikan nilai ekonomi tinggi bagi petani,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan petani dalam mengelola lahan dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan kelompok tani.

Garut sendiri memiliki luas lahan pertanian mencapai 307.407 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 190.000 hektare tergolong lahan produktif yang mencakup sawah, lahan basah, dan lahan kering.

“Kami tidak ingin asal buka lahan. Harus ada perencanaan matang agar lahan yang dikelola benar-benar produktif dan berkelanjutan,” tegas Ardhy.

Meski memiliki potensi lahan yang luas, Dispertan Garut tetap berhati-hati dalam menentukan lokasi pengembangan. Ardhy mengakui bahwa ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah memastikan kesiapan infrastruktur pertanian.

“Kita butuh dukungan irigasi yang memadai, akses jalan yang baik, serta pendampingan kepada petani agar hasilnya optimal,” ungkapnya.

Selain itu, pemilihan varietas jagung yang sesuai dengan kondisi lahan juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.

BACA JUGA: Kasus Tunjangan DPRD Mandek, FRDB dan Aksioma Geram

“Kami akan memastikan benih yang digunakan benar-benar cocok dengan kondisi tanah dan iklim di masing-masing wilayah,” tambahnya.

Ardhy berharap program ini bisa berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif bagi petani serta ketahanan pangan di Garut. Ia juga mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam menyukseskan program ini.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Petani, kelompok tani, hingga masyarakat luas harus turut berperan dalam memastikan pertanian kita semakin maju dan mandiri,” pungkasnya. (Liklik Sumpena/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *