Berita Garut

Warga Sukasari Garut Kembali Antri Air Bersih

infopriangan.com, BERITA GARUT. Pemandangan berjejernya tempat air seperti ember, jerigen, dan sejenisnya merupakan pemandangan yang biasa terjadi di setiap musim kemarau tiba.

Begitu juga dengan antrian warga, tua, muda, laki-laki perempuan merupakan hal yang lumrah terjadi. Bahkan banyak yang rela menunggu berjam-jam lamanya menunggu giliran untuk sekedar mandi dan mencuci.

Itulah yang terjadi dan selalu dialami oleh warga Kampung Sukasari, desa Cihaurkuning, kecamatan Cisompet, kabupaten Garut.

Kejadian tersebut mereka alami di setiap musim panas atau kemarau.

Bagi warga setempat, ketersediaan air bersih memang terbilang langka. Di kampungnya yang didiami sekitar 500 warga, hanya ada dua titik tempat mata air. Itu pun debit airnya sangat kecil dengan kondisi jamban yang sangat memprihatinkan. Konstruksinya hanya terbuat dari bilah bambu.

Diantara warga, bahkan harus siap menenteng air untuk keperluan minum dengan jarak tempuh sekitar 200 meter disertai jalan menanjak.

Seperti dialami Bapa Anda (68 tahun) untuk memenuhi kebutuhan minum keluarganya, dirinya setiap dua hari sekali harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk menenteng air dengan jarak lumayan jauh.

Sebetulnya, banyak warga yang mencoba membuat sumur galian atau pun menggunakan sumur pompa. Namun usaha mereka selalu gagal. Air dari dalam tanah tidak pernah muncul.

Seperti dialami Tatang Ramana, dirinya mencoba membuat sumur galian. Namun sumur yang digalinya sampai mencapai kedalaman 25 meter. Namun air di sumur tersebut tidak juga muncul.

“Karena takut ada gas beracun dan membahayakan penggali, sumur tersebut kami tutup kembali dengan tanah,” tutur Tatang.

BACA JUGA: Wahana Batu Peti, Destinasi Wisata Baru di Kota Banjar

Warga lainya Hendra mengatakan, sebetulnya kalau pemerintah setempat peduli dan mau membantu warganya, untuk dijadikan program bantuan air bersih masih bisa diusahakan.

“Jadi pihak pemerintah jangan buru-buru menyimpulkan tidak ada sumber yang bisa dijadikan program pengairan sebelum dicoba atau diusahakan,” tutur Hendra. (Liklik Sumpena/IP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *