Wisata Garut Selatan Diserbu, Jalan Macet
infopriangan.com, BERITA GARUT. Momen libur Lebaran 1446 Hijriah membawa lonjakan pengunjung k kawasan wisata pantai di wilayah selatan Garut. Sejak H+1 Lebaran, ribuan kendaraan dari berbagai daerah mulai memadati jalur utama menuju destinasi wisata favorit seperti Pantai Sancang, Karang Paranje, Sayang Heulang, Santolo, Karang Papak, Citanggeuleuk, hingga Rancabuaya.
Kepadatan kendaraan tidak terhindarkan, terutama di jalur dari arah kota Garut menuju Pameungpeuk. Kemacetan paling sering terjadi pada pagi dan sore hari, bersamaan dengan arus wisata dan arus balik. Sejumlah pengendara mengeluhkan lamanya waktu tempuh yang bisa berlipat dari biasanya.
“Biasanya ke Santolo cuma dua jam, ini hampir empat jam belum sampai,” ujar Dedi (42), salah satu pengunjung asal Bandung, yang mengaku kelelahan akibat terjebak macet di kawasan Cisompet.
Kemacetan terparah dilaporkan terjadi di sekitar pusat kota Pameungpeuk hingga arah Pantai Sayang Heulang. Volume kendaraan meningkat tajam, tidak hanya dari wisatawan lokal, tetapi juga dari luar daerah seperti Tasikmalaya, Bandung, dan Jabodetabek.
Kepala UPT Pariwisata Garut Selatan, Ate Susanto, ST, MT, menyampaikan bahwa pihaknya mencatat rata-rata 20 ribu wisatawan per hari yang masuk ke kawasan wisata pantai sejak H+1 Lebaran. Menurutnya, tren kunjungan tinggi ini biasa terjadi setiap libur panjang, namun kali ini jumlahnya meningkat drastis.
“Pengunjung masih terus berdatangan, dan puncaknya diperkirakan akan terjadi pada Minggu lusa atau hari keenam pasca Lebaran,” ujar Ate saat ditemui di Posko Pariwisata, Jumat (4/4/2025).
Tingginya minat masyarakat untuk berwisata ke Garut Selatan tidak hanya berdampak pada kemacetan, tetapi juga pada aspek keamanan dan keselamatan di lokasi wisata. Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Polres Garut pun harus bekerja ekstra melakukan patroli siang dan malam untuk mengawasi aktivitas wisatawan di sepanjang garis pantai.
Kasat Polairud Polres Garut, Iptu Aep Saprudin, mengimbau para orang tua agar tidak lengah saat mengawasi anak-anak mereka yang bermain di pantai, terutama yang berenang di laut.
“Kami minta pengunjung, terutama orang tua, agar jangan sampai membiarkan anak-anaknya berenang tanpa pengawasan. Ombak di pantai selatan tidak bisa ditebak,” tegas Aep.
Ia menambahkan bahwa sejak H+1 Lebaran, sudah terjadi beberapa kasus kecelakaan laut, termasuk yang berujung pada korban jiwa. Sebagian besar korban merupakan anak-anak yang terseret ombak saat berenang terlalu jauh dari bibir pantai.
“Sudah ada yang meninggal dunia, dan itu sangat kami sayangkan karena sebetulnya bisa dicegah dengan pengawasan yang ketat,” jelasnya.
Di sisi lain, pengunjung juga mengeluhkan kenaikan harga tiket masuk (HTM) yang dinilai mendadak dan tidak masuk akal. Jika sebelumnya tarif masuk pantai hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000, kini melonjak dua kali lipat menjadi Rp20.000 sampai Rp25.000 per orang.
“Naiknya mendadak tanpa pemberitahuan, dan tidak ada peningkatan fasilitas yang signifikan,” keluh Ratna (35), wisatawan asal Sumedang, yang merasa kecewa karena tetap harus membayar mahal meski fasilitas seperti kamar mandi umum dan tempat parkir masih jauh dari layak.
Meski banyak keluhan disampaikan, antusiasme masyarakat untuk berlibur ke pantai tetap tinggi. Sebagian pengunjung bahkan rela bermalam di tenda atau penginapan sederhana agar bisa menikmati suasana pantai lebih lama.
BACA JUGA: Lalu Lintas Ciamis Tembus 33.640 Kendaraan
Namun demikian, kondisi ini semestinya menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Peningkatan jumlah wisatawan yang tidak dibarengi dengan peningkatan fasilitas dan pengaturan lalu lintas yang memadai hanya akan memperburuk citra pariwisata Garut Selatan di masa depan.
Pihak UPT Pariwisata mengaku sudah berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dishub dan kepolisian, untuk mengatasi persoalan kemacetan dan penataan parkir. Namun, sejauh ini belum ada solusi yang benar-benar dirasakan pengunjung.
Libur Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat sektor pariwisata daerah, bukan sekadar ajang untuk menarik retribusi semata. Pelayanan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung mestinya menjadi prioritas utama. (Liklik S/infopriangan.com)


