Senja Pangandaran yang Sunyi Tanpa Kepakan Kalong
infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN, Langit sore di Pangandaran tampak tenang. Cahaya matahari yang merunduk ke ufuk barat memantul di permukaan laut, menghadirkan panorama yang memanjakan mata. Namun, di balik keindahan itu, ada satu hal yang kini hilang dari senja Pangandaran kepakan sayap kalong yang dulu memenuhi langit menjelang malam.
Dulu, sekitar tahun 1970 hingga 1980-an, masyarakat Pangandaran memiliki kebiasaan menengadah ke langit setiap menjelang magrib. Mereka menanti rombongan kelelawar besar atau kalong yang terbang dari arah Cagar Alam menuju barat. Pemandangan itu menjadi bagian dari rutinitas dan kenangan masa kecil banyak warga.
“Waktu kecil tiap sore pasti ada kalong lewat. Jumlahnya bisa ribuan. Langit jadi hitam, tapi bukan karena hujan, karena kalong, sekarang mah sepi. Kalongnya entah ke mana,” ujar Jajang, warga Desa Cikembulan. Selasa, (04/11/2025).
Bagi warga seperti Jajang, kalong bukan sekadar hewan malam. Mereka adalah penanda waktu, bagian dari harmoni alam yang dulu hidup berdampingan dengan manusia. Hal serupa disampaikan Amin, warga Dusun Karanggedang Babakan.
“Kalau kalong mulai keluar, kami disuruh ibu masuk rumah. Katanya nanti bisa diseruduk kalong,” kenangnya sambil tersenyum.
Kini, cerita itu hanya tinggal kenangan. Generasi muda Pangandaran banyak yang bahkan belum pernah melihat kalong secara langsung. Hilangnya hewan ini menjadi tanda perubahan besar pada lingkungan. Cagar Alam Pangandaran, yang dulu menjadi rumah ribuan kelelawar besar, kini tak lagi seramai dulu. Habitat mereka kian menyempit akibat berkurangnya pepohonan tinggi dan semakin banyaknya lampu-lampu terang di malam hari yang mengganggu orientasi terbang kalong.
“Sekarang jangankan rombongan besar, satu-dua ekor aja susah kelihatan,” kata Amin lirih.
Amin menambahkan bahwa kalong memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
“Mereka nyebarin biji pohon, bantu penyerbukan bunga. Kalau kalong hilang, alam juga ikut rusak,” ujarnya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cagar Alam Pangandaran, Kusnadi, membenarkan bahwa populasi kalong di kawasan tersebut terus menurun. Ia menyebut salah satu penyebabnya adalah perburuan liar di luar kawasan konservasi.
“Kami rutin patroli sore hingga malam hari, terutama di sekitar Kalapan Hendep sampai Pantai Barat. Tapi kadang masih ada aktivitas penangkapan kalong pakai layangan atau elang tiruan,” ujarnya.
Menurut Kusnadi, sebagian kalong hasil tangkapan diduga dijual-belikan kepada pihak tertentu, bukan hanya untuk konsumsi. Ia menegaskan pihaknya terus berupaya menjaga populasi kelelawar besar tersebut.
“Kami ingin kalong tetap ada di langit Pangandaran seperti dulu, karena mereka bagian dari kehidupan hutan yang harus dijaga,” katanya.
BACA JUGA: Nanang Permana Lantik Pengurus Pramuka Banjarsari
Para pemerhati lingkungan memperkirakan hilangnya kalong juga dipicu oleh menurunnya jumlah pohon buah dan bunga yang menjadi sumber makanan alami, serta meningkatnya gangguan manusia di sekitar kawasan konservasi. Padahal, kelelawar berperan besar dalam penyerbukan dan penyebaran biji tanaman yang menjaga regenerasi hutan.
Menjelang malam, suara adzan magrib menggema dari kejauhan. Laut tetap bergemuruh, tapi langit Pangandaran kini kosong. Tak ada lagi bayangan hitam kalong yang menandai pergantian waktu.
“Dulu kita tahu malam datang dari kalong, sekarang tahu malam karena lampu-lampu kafe nyala,” ujar Nana, pedagang di kawasan Bulak Laut. (KMP)
