Helaran, Kesenian Khas Ciamis yang Terus Berkembang di 27 Kecamatan
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Kesenian Helaran menjadi salah satu warisan budaya yang paling menonjol di Kabupaten Ciamis. Seni pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga ungkapan semangat gotong royong, kekompakan, dan kearifan lokal masyarakat Tatar Galuh. Di tengah perkembangan zaman, Helaran tetap bertahan dan bahkan semakin berkembang di berbagai wilayah.
Salah satu bentuk Helaran yang paling dikenal masyarakat adalah Bebegig Sukamantri, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kesenian dari Ciamis tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga nilai budaya tinggi yang diakui secara nasional. Bebegig Sukamantri menjadi simbol semangat dan karakter masyarakat Ciamis yang kuat, ulet, dan berpegang pada tradisi.
Selain Bebegig, kreativitas seniman daerah juga terus melahirkan berbagai inovasi bentuk Helaran baru. Beberapa di antaranya adalah Wayang Landung, Mabokuy, Waruga Bodas, dan Butakara. Masing-masing memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang mencerminkan keragaman budaya lokal. Tak jarang, kelompok-kelompok seni ini berhasil menorehkan prestasi di berbagai festival seni tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, H. Dian Budiana, M.Si, mengatakan bahwa kesenian Helaran merupakan aset budaya penting yang harus dijaga bersama.
“Kabupaten Ciamis memiliki potensi seni dan budaya yang luar biasa. Kesenian Helaran menjadi salah satu warisan yang menonjol dan telah menjadi kebanggaan daerah. Ke depan, kami ingin agar kesenian ini tetap lestari, berkembang, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dian juga menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ia menilai partisipasi masyarakat, seniman, dan budayawan sangat menentukan keberlanjutan budaya lokal.
“Teman-teman seniman dan budayawan punya peran besar dalam menjaga keberlangsungan budaya. Setiap daerah memiliki kekayaan tradisi masing-masing, dan itu harus terus kita dorong serta lestarikan bersama,” tambahnya.
Menurut Dian, pemerintah daerah terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan kesenian. Ia menyebutkan, keterbatasan anggaran bukan halangan jika ada semangat gotong royong antara pemerintah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan pihak swasta.
“Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kolaborasi dan semangat kebersamaan, kesenian di Ciamis akan terus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Eman Hermansyah, S.Pd, melalui stafnya Fahmy, menjelaskan bahwa perkembangan Helaran kini semakin pesat.
“Dulu belum semua kecamatan memiliki Helaran. Sekarang hampir setiap kecamatan sudah memiliki kelompok Helaran masing-masing. Hingga akhir tahun 2024, tercatat ada sekitar 30 kelompok Helaran yang tersebar di 27 kecamatan,” ungkap Fahmy. Selasa, (21/10/2025).
Untuk menjaga semangat para seniman, pihaknya mengembangkan Program PORAK (Pembinaan dan Pengembangan Kesenian Helaran Kabupaten Ciamis). Program ini menjadi wadah bagi kelompok seni agar mendapatkan kesempatan tampil dan pembinaan secara merata.
BACA JUGA: Hari Santri Teguhkan Silaturahim dan Akhlak Pesantren
“Melalui PORAK, kami ingin semua kelompok Helaran punya peluang yang sama untuk tampil di berbagai kegiatan. Ini bentuk apresiasi dan pemerataan pembinaan bagi seniman lokal,” jelas Fahmy.
Fahmy menambahkan, daya tarik utama Helaran tidak hanya terletak pada pertunjukannya, tetapi juga pada nilai sejarah dan filosofi yang dikandungnya. “Setiap Helaran punya kisah dan makna yang berakar dari sejarah lokal. Jadi bukan sekadar hiburan, tetapi sarana menyampaikan pesan budaya kepada masyarakat,” ujarnya.
Kabupaten Ciamis yang dikenal sebagai “Kota Seribu Situs” terus berupaya menjaga dan memperkenalkan kekayaan sejarahnya melalui kegiatan seperti Helaran. Pemerintah daerah juga rutin melakukan pendataan situs sejarah sebagai bagian dari komitmen melestarikan identitas budaya dan memperkuat karakter generasi muda.
“Pendataan situs-situs sejarah terus kami lakukan agar warisan budaya dan sejarah Ciamis tidak hilang ditelan zaman,” pungkas Fahmy. (Eddy)

