Jabar Kehilangan Maestro Seni Musik Sunda
infopriangan.com, BERITA NASIONAL. Namanya begitu dikenal. Jasanya begitu besar bagi kehidupan seni Sunda. Dialah maestro seni musik Sunda, Mohammad Tan Deseng. Minggu, (06/11/2022). Pukul 14.10 sang legenda seni Sunda meninggal dunia di Kota Bandung dalam usianya 80 tahun.
Dikabarkan, Tan Deseng sempat menderita sakit pada lambung, tenggorokan dan sesak nafas. Tan Deseng tercatat sebagai seniman Sunda yang sangat berjasa dalam perkembangan seni Sunda.
Berkat jasanya, Wayang Golek Giri Harja, Upit Sarimanah sampai Titi Saleh bisa masuk rekaman.
Padahal saat itu, di era tahun 1980-1990 dunia rekaman didominasi oleh musik Dangdut dan Pop untuk merilis album.
Berkat permainan gitarnya yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, Tan Deseng dijuluki “setan melodi”.
Tan Deseng lahir di daerah Gg. Tamim Kota Bandung 22 Agustus 1942. Ayahnya yang keturunan China, Tan Tjing Hong termasuk salah seorang pengusaha sukses saat itu.
Namun Tan juga gemar melukis dan bisa memainkan beberapa alat musik. Tan memiliki delapan anak. Namun yang menyenangi dunia musik hanya Tan Deseng dan kakaknya, Tan De Tjeng.
Menginjak usianya 12 tahun, Tan Deseng mulai serius menekuni musik, terutama musik Sunda. Saking cintanya pada Seni Sunda saat berada di Palembang, dia sempat menangis mendengar musik Sunda di RRI.
Untuk lebih memahami dan mendalami musik Sunda, Tan Deseng sempat belajar dari tetangga dan belajar dari beberapa seniman dan budayawan Sunda.
Seperti belajar waditra ke Adjat Sudrajat alias mang Atun, belajar Kecapi Suling kepada Evar Sobari, Mang Ono, Sutarya dan dalang Abah Soenarya.
Berkat keuletanya, kemampuanya bermain musik karawitan semakin berkembang. Hasilnya, Tan Deseng sering mendapat job manggung di berbagai kota di Jawa Barat. Bahkan dia sering juga manggung di Jepang, China dan Thailand.
Tan Deseng juga seniman yang pertama kali merekam wayang golek Abah Soenarya. Kemudian berlanjut dengan merekam kawih pesinden Titim Fatimah, Kokom Komariah sampai ke Tati Saleh.
Tan Deseng tercatat pula orang yang pertama kali memadukan seni “ketuk tilu” yang menjadi dasar seni jaipong. Kemudian merekamnya dengan dibantu seninan-seniman asal daerah Karawang.
Seni jaipong yang sempat sangat populer tersebut digelutinya sejak tahun 50-an. Kecintaan dan upaya Tan Deseng pada seni Sunda pun sempat mendapat penghargaan dari Wali Kota Bandung, Gubernur Jawa Barat dan Kebudayaan dan Pariwisata saat itu.
Bahkan Tan Deseng pernah mendapat penghargaan dari Presiden Megawati dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia dinobatkan sebagai maestro Seni Sunda.
Namun, nama besar memang tidak serta merta bergelimang kemewahan. Seperti yang dialami Tan Deseng. Dia tetap hidup bersahaja. Bahkan sempat berpindah-pindah dari rumah kontrakan yang satu ke rumah kontrakan lainnya. Namun dirinya tetap teguh menjalaninya.
Budayawan Sunda, Dadan Hidayat mengatakan, sampai saat ini Tan Deseng tidak memiliki rumah. Meski hidup dalam kesederhanaan, namun Tan Deseng tetap memiliki rasa ingin berbagi. Terutama dengan sesama seniman yang dalam kesulitan.
BACA JUGA: Pohon Tumbang Merusak Rumah Warga
Salah satu buktinya saat seniman kehilangan mata pencaharian akibat wabah Covid-19. Tan Deseng menjual kecapi si jimatnya. Uang hasil penjualanya dipergunakan untuk membantu sesama seniman.
Sebelum meninggal, Tan Deseng dijadwalkan akan tampil sebagai pembicara pada seminar Ketahanan Budaya Sunda. Rencanananya, acara tersebut akan digelar di Gedung Budaya Soreang pada 18 Nopember 22. Namun sebelum acara tersebut digelar, Tan Deseng sang maestro meninggal dunia. (Liklik Sumpena/IP)

