Jejak Kota Kuno di Purwadadi

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Di Kampung Tangkeban, Desa Purwadadi, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis ditemukan jejak kota kuno masa Kerajaan Galuh. Sang penemu adalah KH Nur Muhammad, kakek Imam Mursyid TQN Suryalaya alm Abah Anom. Konon jejak peradaban kota kuno itu bernama Kuta Pasagi. Titik nol Kuta Pasagi itu ditandai dengan batu karang yang berumur ratusan tahun silam. Demikian dituturkan Karmana (58), pemilik tanah Kuta Pasagi, Jumat (18/6/2021)..

Menurut Karmana, Kuta Pasagi asal muasalnya hutan lebat. Tidak ada kehidupan pada 300 tahun silam. Jadi ditemukannya sejarah Kuta Pasagi setelah hutan dibuka untuk lahan pertanian.

“Kakek moyang saya saat membuka lahan hutan tidak sendirian. Kala itu mereka bersama KH Nur Muhammad, ulama tasawuf TQN Suryalaya. Dari ketajaman mata batin beliau KH Nur Muhammad itulah kami paham kisah Kuta Pasagi, ” ujar Karmana.

Dikatakan Karmana, berdasarkan kisah turun temurun, Kuta Pasagi itu nama kerajaan purba. Ada irisan Galuh kuno dan Mataram kuno. Ibu kota kerajaan Kuta Pasagi berada di Desa Purwadadi yang dahulu disebut Rawa Lakbok.

“Sebagai patilasan kerajaan kuno, tentu saja aura mistiknya sangat terasa. Bahkan bagi yang tidak mentaati aturan alam sana bakal resiko dalam hidupnya,” ujar Karmana.

Sementara itu dituturkan Budayawan Galuh, Eyang Lewang, hilangnya Kerajaan Kuta Pasagi saat dipimpin Prabu Selang Kuning. Kerajaan ini menghilang ditelan banjir sehingga bekas kerajaan menjadi rawa Lakbok.

“Rawa Lakbok itu sebutan bekas Kerajaan Kuta Pasagi. Diatas Rawa Lakbok itulah ribuan tahun lalu ada peradaban manusia,” tambah Eyang.

Menurut Eyang, Prabu Selang Kuning punya dua anak lelaki, yakni Pangeran Banuraga dan Pangeran Banurasa. Dalam perebutan tahta kerajaan, kedua putra tersebut sama-sama sakti. Prabu Selang Kuning membuat sayembara adu kesaktian lesung.

“Ternyata keduanya tidak ada yang kalah dan menang. Ini pertanda Kerajaan Kuta Pasagi bakal hancur dan hilang. Makanya Prabu Selang Kuning memilih ngahiyang di Gunung Galunggung,” ujar Eyang.

BACA JUGA: Puluhan Warga Geruduk Kantor Kecamatan

Akhirnya Pangeran Banurasa pergi ke Gunung Padang dan Pangeran Baburaga pergi ke Gunung Damar seraya menyaksikan Kuta Pasagi hilang ditelan air bah yang menggenangi Kerajaan Kuta Pasagi.

BACA JUGA: Hati-hati Garut Masuk Zona Merah

Kuta Pasagi hingga kini masih diabadikan namanya oleh masyarakat setempat. Patilasan Kuta Pasagi kini hanya sebidang tanah pasagi yang mistik dan angker.(Rio/IP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan