Kerbau Warga Cisompet Tewas, Konflik Satwa Nyata
infopriangan.com, BERITA GARUT. Seekor kerbau jantan milik warga Kampung Cintawana, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, ditemukan mati dengan dugaan kuat akibat serangan satwa liar. Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa konflik antara manusia dan satwa dilindungi di wilayah Garut selatan bukan lagi potensi, melainkan fakta yang terus berulang tanpa penanganan konkret.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Cikondang, Mahmud Asyari, menyatakan bahwa kerbau tersebut milik petani setempat bernama Iyus. Ia menjelaskan bahwa bangkai kerbau baru diketahui pada Jumat pagi oleh pemiliknya.
“Pemilik baru mengetahui salah satu kerbaunya sudah tergeletak mati pada Jumat pagi,” kata Mahmud. Minggu, (25/01/2026).
Mahmud menegaskan bahwa indikasi kematian kerbau mengarah kuat pada serangan harimau, khususnya macan tutul Jawa yang masih berkeliaran di kawasan tersebut. Ia menyebut kondisi fisik bangkai tidak menyisakan keraguan di mata warga.
“Di bagian punggung dan leher terlihat jelas bekas cakaran dan gigitan. Itu bukan luka biasa, melainkan ciri khas serangan harimau,” ujarnya.
Mahmud juga menekankan bahwa wilayah Cisompet masih berada dalam lintasan satwa liar yang aktif. Menurutnya, warga sudah berulang kali menyampaikan kekhawatiran terkait keberadaan macan tutul yang mendekati permukiman.
“Satwa liar masih sering terlihat di sekitar kampung, dan kejadian ini bukan yang pertama,” tegas Mahmud.
Di sisi lain, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama organisasi lingkungan Jasa Muda hingga kini belum mengevakuasi bangkai kerbau tersebut. Langkah itu disebut diambil demi menghindari risiko lanjutan.
“Evakuasi belum bisa dilakukan karena masih ada macan tutul di sekitar lokasi bangkai,” ujar Apip Sahudin, petinggi Jasa Muda, menyampaikan sikap BKSDA.
Namun demikian, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai langkah mitigasi yang konkret. Apip mengakui bahwa yang dapat dilakukan saat ini baru sebatas pendampingan terhadap pemilik ternak.
“Kami baru bisa menemui pemilik kerbau dan keluarganya. Ini adalah realitas hidup berdampingan dengan satwa liar yang dilindungi,” katanya.
Apip juga menegaskan larangan keras terhadap perburuan liar sebagai respons emosional atas kejadian tersebut. Ia mengingatkan bahwa tindakan represif justru akan memperburuk situasi.
“Perburuan liar hanya akan merusak keseimbangan hutan. Jika mangsa alaminya hilang, harimau pasti masuk ke perkampungan,” tegasnya.
BACA JUGA: Polres Garut Tahan Pelaku Penganiayaan di Singajaya
Sementara itu, Iyus selaku pemilik kerbau memilih bersikap pasrah meski harus menanggung kerugian ekonomi. Ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain menerima kenyataan tersebut.
“Itu sudah terjadi, saya pasrah saja,” ucap Iyus singkat.
Kejadian ini menjadi cerminan lemahnya sistem perlindungan ternak dan mitigasi konflik satwa-manusia di wilayah penyangga hutan. Tanpa langkah nyata seperti pengamanan kandang, sistem peringatan dini, dan kehadiran negara yang lebih nyata di lapangan, konflik serupa hampir pasti akan terus berulang dengan warga kecil sebagai pihak yang paling dirugikan. (Liklik)


