Ketua LESBUMI Dukung Lampion Imlek di Kemenag
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Kota Banjar, Ma’mun Syarif, memberikan apresiasi terhadap inisiatif Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjar yang memasang ornamen lampion dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek. Ia menyebut langkah tersebut sebagai wujud nyata penghormatan terhadap keberagaman budaya dan agama di Indonesia.
Menurut Ma’mun, sebagai institusi yang menaungi seluruh agama resmi di Indonesia, Kemenag telah menunjukkan komitmen untuk memberikan ruang bagi perayaan keagamaan lainnya. Ia menilai bahwa simbol-simbol seperti lampion adalah bagian dari kekayaan tradisi yang seharusnya dihormati oleh semua pihak.
“Saya sangat mengapresiasi Kementerian Agama Kota Banjar. Pemasangan lampion ini adalah bentuk penghormatan luar biasa terhadap keberagaman yang menjadi identitas bangsa kita,” ujar Ma’mun.
Namun, ia mengaku kecewa dengan adanya protes dari kelompok tertentu yang menolak pemasangan lampion tersebut. Kelompok yang mengatasnamakan Forum Muslim Banjar itu, menurut Ma’mun, justru mencerminkan kurangnya pemahaman mendalam tentang nilai-nilai toleransi.
“Protes seperti itu hanya menunjukkan ketakutan yang tidak berdasar. Bagaimana mungkin simbol budaya seperti lampion dianggap mengancam keyakinan seseorang?” katanya dengan nada kritis.
Ma’mun juga mengkritik langkah Pemkot Banjar dan Polres Banjar yang mengimbau agar lampion tersebut diturunkan. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kurangnya keberanian dalam membela nilai-nilai kebhinekaan yang selama ini menjadi dasar negara.
“Ini keputusan yang disayangkan. Ketika simbol keberagaman ditentang, dan pemerintah malah tunduk pada tekanan, itu sama saja memberi ruang kepada kelompok intoleran untuk bertindak semaunya,” tegas Ma’mun.
Menurutnya, toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan atau wacana yang sering disampaikan di forum resmi. Toleransi, lanjutnya, harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menghormati simbol-simbol keagamaan dan tradisi budaya lainnya.
Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap simbol agama lain adalah cerminan keimanan yang belum matang.
“Jika keimanan kita kuat, kenapa harus merasa terancam dengan keberadaan lampion, gereja, atau kelenteng? Semua itu adalah bagian dari keberagaman yang memperkaya kehidupan kita sebagai bangsa,” ujarnya dengan nada tegas.
Ma’mun juga mengingatkan bahwa menjaga keberagaman bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat. Ia menyerukan kepada semua pihak untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama, bukan sebagai alasan untuk memecah belah.
“Kita harus memahami makna toleransi yang sesungguhnya. Itu bukan sekadar membiarkan perbedaan, tetapi hidup berdampingan dengan saling menghormati, tanpa merasa terancam oleh kepercayaan atau budaya lain,” ungkapnya.
BACA JUGA: PPDI Parigi Gelar Diskusi Regulasi Tentang Desa
Ia pun berharap agar aksi intoleransi semacam ini tidak lagi terulang di masa depan. Menurutnya, membiarkan kelompok tertentu memaksakan kehendak hanya akan merusak harmoni yang sudah terjalin di masyarakat.
“Saya ingin mengingatkan, jangan biarkan intoleransi merongrong kebhinekaan yang telah menjadi warisan berharga bangsa kita. Sebagai warga negara, kita punya tanggung jawab untuk menjaga itu,” katanya menutup pernyataan.
Pernyataan Ma’mun menjadi pengingat penting bahwa keberagaman adalah kekuatan Indonesia. Ketakutan terhadap simbol atau tradisi agama lain hanya akan menciptakan jurang perpecahan yang seharusnya tidak ada. (Johan/infopriangan.com)

