Ketua SEGI Apar Rustam Ependi Tutup Usia di Garut
infopriangan. com, BERITA GARUT. Dunia pendidikan Indonesia berduka. Ketua Serikat Guru Indonesia (SEGI), Apar Rustam Ependi, meninggal dunia pada Kamis, 20 Maret 2025, pukul 00.30 WIB di Garut. Kabar duka ini mengejutkan banyak pihak, terutama para guru yang mengenalnya sebagai sosok yang kritis dan berani dalam memperjuangkan hak-hak pendidik.
Menurut keterangan sejawatnya, Apar didiagnosis menderita kanker usus. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia sempat menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Bandung dan rumah sakit swasta di Garut. “Beliau sudah cukup lama sakit, tapi tetap aktif di organisasi. Kami kehilangan seorang pejuang pendidikan,” ujar seorang rekan di SEGI.
Apar Rustam Ependi bukan sekadar pemimpin organisasi profesi guru. Ia adalah tokoh muda yang dihormati dan disegani di dunia pendidikan. Keberaniannya dalam mengkritisi kebijakan pemerintah membuatnya dikenal luas, baik di kalangan guru maupun pengambil kebijakan. “Pak Apar selalu menyuarakan kepentingan guru, tanpa takut tekanan dari siapa pun,” kata seorang anggota SEGI yang mengenalnya sejak lama.
Sebagai Ketua SEGI, Apar aktif mengadvokasi berbagai persoalan guru, termasuk kesejahteraan tenaga pendidik, kebijakan sertifikasi, hingga permasalahan pendidikan di daerah. Di luar SEGI, ia juga menjadi Dewan Pakar di Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), organisasi yang berbasis di Jakarta dan dipimpin oleh Satriawan Salim.
Apar lahir pada pertengahan tahun 1980-an. Kariernya di dunia pendidikan dimulai sebagai guru di SMKN 12 Garut, yang dulu dikenal sebagai SPMA Garut. Dari seorang pengajar, ia kemudian dipercaya menjadi Pengawas Pembina di Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Provinsi Jawa Barat. Kariernya di dunia pendidikan tidak hanya membuktikan kompetensinya, tetapi juga dedikasi dan komitmennya terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.
Di kalangan kolega, Apar dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berani bersuara, tetapi juga memiliki pemikiran yang tajam. “Beliau tidak hanya mengkritik, tetapi juga selalu menawarkan solusi konkret. Itu yang membuatnya dihormati,” ungkap seorang kolega di P2G.
Meninggalnya Apar menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Seorang anggota keluarganya mengatakan bahwa sebelum wafat, Apar masih sempat berdiskusi tentang kondisi pendidikan di Indonesia. “Beliau selalu memikirkan nasib guru, bahkan di saat kesehatannya menurun,” kata salah satu kerabatnya.
Jenazah Apar dimakamkan di kompleks SMK Al-Falah, Kampung Biru, Kabupaten Garut. Sejumlah guru, kolega, dan aktivis pendidikan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.
BACA JUGA: Kantor Pertanahan Kota Banjar Gelar Pengajian dan Bukber Anak Yatim
“Kami kehilangan tokoh yang gigih memperjuangkan hak-hak guru. Semoga perjuangannya diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujar seorang rekan di SEGI yang turut mengantarkan kepergiannya.
Kepergian Apar Rustam Ependi meninggalkan kekosongan besar dalam perjuangan guru di Indonesia. Namun, warisan perjuangannya tetap hidup dalam semangat para pendidik yang terus memperjuangkan pendidikan yang lebih baik. (Liklik/infopriangan com)








