Kolaborasi Milenial dan Politisi dalam Ajang Pemilu 2024
infopriangan.com, TELISIK OPINI. Pemuda milenial merupakan seseorang yang memiliki integritas dan keinginan yang kuat. Selalu memegang prinsip visi misi yang telah ditentukan. Rintangan apapun dihadapannya akan dihadapinya, walaupun harus nyawa menjadi taruhannya. Itulah idealismenya seorang pemuda.
Inilah yang akan menjadi sasaran di ajang pemilu 2024, pemuda diharapkan berkontribusi didalamnya. Tentu dalam rangka menyukseskan proses pemilu, hingga tercipta keadilan dan kejujuran. Sebab, pemilu serentak 2024 bukan hanya menjadi PR penyelenggara pemilu, tetapi juga menjadi PR seluruh rakyat Indonesia, termasuk generasi milenial yang cerdas dan kritis.
Jika ditelaah, pemilu bukan hanya sekadar memilih pemimpin, tetapi tepatnya untuk memimpin Indonesia ke arah yang lebih baik. Tentu dengan kebijakan yang pro terhadap rakyat. Maka, generasi milenial jangan hanya menjadi penonton atau hanya menuntut haknya untuk dipenuhi. Tetapi harus mampu menebar energi positif, menebarkan virus-virus kebaikan, khususnya dalam hal pelaksanaan pengawasan pemilu partisipatif.
Begitulah yang terjadi saat ini, banyak politisi mencari dukungan generasi milenial. Seperti yang dilakukan Ketua Umum PP Tidar sekaligus keponakan dari Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati mengatakan bahwa Jabar menjadi target untuk memenangkan Prabowo Subianto. Caranya merangkul atau menggaet kaum milenial. Karena Jabar memiliki 51% generasi milenial.
Walhasil, pihaknya akan berupaya keras untuk mendulang suara milenial dalam pemilu 2024. Bisa melalui edukasi terkait kemandirian finansial, seperti berwirausaha, bidang seni dan budaya, hingga pendidikan dan olahraga.
Hindari Politik Indentitas
Generasi milenial belumlah semuanya melek politik. Seharusnya ada edukasi berkenaan politik yang baik dan jujur, agar terhindar dari politik identitas. Dimana politik identitas akan berakibat fatal, seperti perpecahan persatuan Indonesia, jika tidak dipahamkan maksudnya.
Menurut Ali Nurdin, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyatakan bahwa penting sekali bagi generasi milenial memahami politik dan berwawasan kebangsaan yang baik. Agar tidak mudah terpengaruhi narasi-narasi politik identitas. Begitupula, menurut Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Bambang Brodjonegoro menegaskan posisi generasi muda dalam politik menarik untuk disorot. Karena merekalah motor penggerak pembangunan nasional yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Sayangnya, generasi milenial tengah disibukkan pada perkara kebutuhan pribadinya. Artinya lebih ingin fokus memuaskan keinginannya daripada mengikuti perpolitikan di Indonesia. Sebab, politik itu tidak sehat, banyaknya hanya ingin mengejar kekuasaan saja. Apalagi, hanya dibutuhkan saat menjelang pemilu saja.
Tidak heran, masih banyak milenial yang acuh tak acuh terhadap ajakan politisi. Kecuali yang memang mencoba menjabat menjadi penguasa, dan berkeinginan mengubah wajah bangsa Indonesia. Tentu inipun harus ikut dan masuk ke sebuah partai politik terlebih dahulu, untuk mendapatkan dukungan.
Namun, cukupkah dengan kehadiran milenial di kancah perpolitikan pemilu 2024? Akankah mengubah wajah bangsa ini? Belum tentu. Sebab, generasi milenial ini masih terombang-ambing, antara “sadar harus adanya perubahan politik” dan “tak tau sistem alternatif apa yang bisa selesaikan persoalan-persoalan ini”. Bahkan masih ada yang terjerat oleh pengertian politik yang keliru.
Sehingga, perlu sekali memahamkan pengertian politik. Agar tidak hanya ikut-ikutan saja, tetapi tetap mengikuti idealisme-nya. Karena bangsa ini, tak membutuhkan pemimpin yang sekadar muda, tetapi harus yang pro terhadap rakyat. Serta bisa menyelesaikan persoalan rakyat Indonesia.
Milenial dan Politik dalam Islam
Dalam Islam, politik bermakna mengurus urusan umat. Mulai dari pangan, sandang, dan papan. Artinya kebutuhan mendasar harus dipenuhi oleh Negara (penguasa). Serta tak kalah penting, menjadikan Allah Swt. sebagai Al-Mudabbir, yaitu pengatur kehidupan manusia. Maka, akan nampak, bahwa pemimpin dalam Islam adalah yang menjalankan hukum-hukum Allah Swt.
Sehingga, generasi milenial sepatutnya melek politik Islam, agar bangkit dari keterpurukan. Caranya dengan mempelajari Islam dan mendakwahkan arti politik yang sesungguhnya. Bukan acuh tak acuh, atau hanya memuaskan keinginannya.
BACA JUGA: Satlantas Polres Ciamis Imbau Penggunaan Jalan
Hendaklah bisa berjuang untuk rakyat dengan politik Islam, seperti Mus’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya akan banyak yang terlahir kembali. Kaum muslim telah dipuji oleh Sang Pemilik kehidupan, dengan predikat sebagai umat terbaik. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali Imran ayat 110 :
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
Saatnya generasi milenial bangkit untuk melanjutkan kehidupan Islam. Bersemangat mencari rido Allah Swt. dengan peduli pada nasib bangsa ini. Hanya dengan politik Islam-lah, Indonesia akan bangkit dan rakyat pun sejahtera. Wallahu’alam bishshawab. (Citra Salsabila)

