Koncab PGRI Lakbok Mulai Memanas Dua Kandidat Maju

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Konferensi Cabang (Koncab) PGRI Lakbok yang akan digelar pada 3 Desember 2025 mulai memunculkan dinamika hangat di kalangan para guru. Mereka menilai bahwa geliat kompetisi di tubuh organisasi mulai terasa sejak dua kandidat kuat menyatakan siap maju.

“Aromanya sudah mulai kerasa, keduanya sudah tampilkan visi dan misinya,” tutur seorang guru yang mengikuti perkembangan internal PGRI Lakbok.

Sebagai organisasi profesi terbesar di dunia pendidikan, PGRI memang memiliki daya tarik besar bagi anggotanya. Namun dalam mekanisme organisasi, pencalonan tidak bisa dilakukan secara mandiri tanpa adanya dukungan dari ranting. Hal inilah yang membuat proses pencalonan lebih terstruktur dan tak sembarang orang bisa maju. Para guru menyebut aturan tersebut sebagai cara menjaga wibawa organisasi.

Di Lakbok, jumlah anggota PGRI mencapai 402 orang. Meski begitu, hanya 31 suara sah yang akan menentukan arah kepemimpinan baru. Suara itu adalah mandat yang dipegang oleh tujuh ranting: tiga ranting SD, tiga ranting SMP, dan satu ranting SMA. Komposisi suara inilah yang memunculkan kalkulasi politik internal dan membuat peta dukungan menjadi sangat dinamis.

Situasi memanas ketika dua figur putra daerah Lakbok mulai mendapat sorotan. Keduanya dinilai aktif di organisasi PGRI dan berpengalaman dalam kepengurusan.

“Kedua calon ini sama-sama kuat, sama-sama punya perjalanan panjang di organisasi,” ujar seorang pengurus ranting.

Guru-guru pun mulai membahas kemungkinan arah organisasi jika salah satu dari dua figur tersebut terpilih.

Nama pertama yang digadang-gadang maju adalah Basuki Rahmat, Kepala SDN 1 Kertajaya yang juga merupakan Wakil Ketua PGRI Cabang Lakbok. Sosok yang dikenal komunikatif ini disebut-sebut memiliki dukungan kuat dari beberapa ranting SD.

Sosok kedua adalah Eka Cahyana, Pengawas Sekolah Dasar di Korwil Lakbok yang kini menjabat Sekretaris Umum PGRI Cabang Lakbok. Eka dianggap punya jaringan luas hingga tingkat akar rumput karena kedudukan strukturalnya sebagai pengawas.

Beberapa guru menilai kedua kandidat memiliki modal organisasi dan pengalaman yang relatif setara. Karena itu, diskusi di lingkungan sekolah lebih banyak mengarah pada karakter kepemimpinan yang dibutuhkan PGRI Lakbok.

“Yang kami butuhkan bukan hanya pemimpin yang populer, tapi yang paham betul persoalan guru,” ucap seorang guru SMP.

Ia menegaskan pentingnya ketua yang mampu memperjuangkan perlindungan profesi serta meningkatkan kesejahteraan anggota.

Menjelang Koncab, sejumlah guru memperkirakan bahwa dukungan akan terus berubah mengikuti perkembangan di ranting. Basis suara yang berbeda antara kedua kandidat membuat persaingan semakin ketat. Tidak sedikit guru yang mengatakan bahwa tahun ini suasana pemilihan lebih terasa kompetitif dibanding periode sebelumnya.

Koncab PGRI Lakbok bukan hanya agenda rutin yang muncul setiap beberapa tahun. Bagi sebagian besar guru, ini adalah ruang adu gagasan dan adu kapasitas untuk menentukan arah organisasi. Kedua kandidat disebut sudah mulai “tebar pesona” dengan cara masing-masing. Ada yang melakukan pendekatan langsung dan ada yang fokus memperkuat jaringan ranting.

BACA JUGA: Kades Karangpaninggal Apresiasi Tiga Program TJSL PLN

Tidak heran jika atmosfer kompetisi semakin mengemuka di Kecamatan Lakbok. Para guru berharap proses pemilihan berjalan jujur dan elegan.

Pada akhirnya, mereka menginginkan sosok ketua yang benar-benar mampu merangkul semua kalangan, menjaga marwah organisasi, dan memperjuangkan kepentingan para pendidik tanpa terseret kepentingan pribadi.

Mereka berharap, “Siapapun yang terpilih, PGRI Lakbok harus lebih kuat dan lebih solid.” (Kusmana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan