Lapas Banjar Jaga Hak Kesehatan Meski Dokter Nihil

infopriangan.com, BERITA BANJAR. Komitmen Lapas Kelas IIB Banjar dalam memenuhi hak pelayanan kesehatan bagi warga binaan tetap dijaga meskipun saat ini menghadapi kekosongan tenaga dokter tetap. Kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi jajaran lapas untuk menurunkan standar layanan kesehatan, melainkan mendorong upaya kolaboratif agar pelayanan tetap berjalan secara berkelanjutan.

Kepala Lapas Kelas IIB Banjar, Tutut, menjelaskan bahwa kekosongan dokter terjadi setelah wafatnya almarhum dr. Witri, yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan warga binaan. Kehilangan tersebut menjadi tantangan serius bagi lapas, mengingat peran dokter sangat vital dalam pemenuhan hak dasar warga binaan.

Tutut menegaskan bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak yang tidak dapat ditunda ataupun diabaikan dalam kondisi apa pun.

“Pelayanan kesehatan adalah hak dasar warga binaan yang wajib kami penuhi, meskipun saat ini kami menghadapi keterbatasan tenaga medis,” ujar Tutut. Selasa, (6/1/2026).

Untuk mengantisipasi kekosongan tersebut, Lapas Banjar mengambil langkah cepat dengan menjalin koordinasi intensif bersama pemerintah daerah. Kerja sama dilakukan melalui dinas kesehatan, puskesmas, serta rumah sakit terdekat guna memastikan akses layanan medis tetap tersedia bagi warga binaan.

Tutut menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi solusi sementara yang dinilai efektif. Melalui skema tersebut, sambang dokter dijadwalkan secara rutin untuk memberikan pemeriksaan kesehatan, pengobatan, serta penanganan medis dasar.

“Kami memastikan dokter tetap hadir secara berkala agar layanan kesehatan tidak terhenti,” katanya.

Selain mengandalkan sambang dokter, petugas kesehatan yang ada di Lapas Banjar juga terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan warga binaan secara berkala. Upaya promotif dan preventif turut ditingkatkan melalui edukasi kesehatan, sebagai langkah pencegahan agar potensi gangguan kesehatan dapat diminimalisasi sejak dini.

Di sisi lain, pihak lapas juga aktif berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat terkait pemenuhan dokter tetap. Saat ini, Lapas Banjar masih menunggu rekomendasi resmi dari Kanwil sebagai dasar penempatan tenaga medis permanen.

Tutut berharap proses tersebut dapat segera terealisasi agar pelayanan kesehatan di lapas dapat berjalan lebih optimal dan tidak lagi bergantung pada mekanisme sementara.

“Kami berharap rekomendasi dari Kanwil dapat segera turun sehingga ke depan pelayanan kesehatan bisa berjalan lebih maksimal,” ujarnya.

BACA JUGA: Meriloka Dilantik Jadi Sekdes, Tata Kelola Desa Diperkuat

Menariknya, di tengah keterbatasan yang dihadapi, Lapas Banjar justru mencatatkan capaian positif di bidang pelayanan kesehatan. Sepanjang tahun 2025, Lapas Banjar berhasil menghadirkan klinik paripurna pertama serta meraih peringkat kedua se-Jawa Barat dalam penilaian pengelolaan klinik pemasyarakatan.

Menurut Tutut, capaian tersebut menunjukkan keseriusan dan komitmen seluruh jajaran lapas dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Tutut menilai bahwa keterbatasan sumber daya tidak seharusnya menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan.

“Keterbatasan justru kami jadikan motivasi untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas layanan,” tegasnya.

Ke depan, Lapas Banjar berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Dengan dukungan lintas sektor serta penetapan dokter tetap, diharapkan pelayanan kesehatan bagi warga binaan dapat terus terjaga secara profesional, manusiawi, dan berkelanjutan. (Johan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan