Layanan Buruk, Kamisama Tunggak Kewajiban
infopriangan.com, BERITA BANJAR. Permasalahan pengelolaan sampah di Kota Banjar, Jawa Barat, semakin pelik setelah terungkapnya tunggakan retribusi oleh perusahaan pengolahan sampah Kamisama. Warga Kecamatan Purwaharja yang selama ini menjadi pelanggan layanan Kamisama, meluapkan kekecewaannya atas buruknya pelayanan dan dugaan pembiaran oleh pemerintah.
Kekecewaan warga mencuat saat mereka mendatangi langsung Kawasan Pengolahan Sampah Kamisama di Karangpanimbal, Rabu (9/4/2025). Mereka mempertanyakan kinerja Kamisama yang dianggap tidak maksimal dan mengecewakan, khususnya dalam sepekan terakhir ketika pengangkutan sampah mandek dan menimbulkan penumpukan di berbagai titik permukiman.
Di hadapan perwakilan warga, Kepala Kawasan Kamisama Karangpanimbal, Delta Naufal, mengakui bahwa perusahaan mengalami kendala serius dalam operasional. Ia menyebutkan bahwa jumlah pelanggan saat ini yang hanya sekitar 2.000 orang tidak cukup untuk menutup biaya operasional harian.
“Kami menargetkan 5.000 pelanggan agar layanan bisa berjalan optimal,” ujar Delta. Delta juga menambahkan, keterbatasan jumlah petugas pengangkut yang hanya lima orang serta lonjakan volume sampah selama momen Lebaran turut memperparah situasi.
“Volume sampah meningkat hingga tiga kali lipat saat libur Lebaran, dan ini di luar kendali kami,” ucapnya, mencoba menjelaskan mengapa pengangkutan sampah menjadi tidak maksimal.
Namun alasan tersebut justru membuat warga semakin kecewa. Mereka menilai manajemen Kamisama tidak profesional dan tidak punya solusi konkret atas masalah yang sudah berulang. Salah satu warga, Lalak, menyatakan bahwa masyarakat sudah menjalankan kewajibannya dengan membayar retribusi secara rutin, tetapi tidak mendapatkan pelayanan yang sepadan.
“Kami bayar tepat waktu, tapi sampah dibiarkan menumpuk. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan warga,” ujarnya dengan nada tegas.
Selama hampir seminggu, warga Purwaharja harus hidup berdampingan dengan tumpukan sampah yang tidak terangkut. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, tetapi juga memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan. Sejumlah warga bahkan menyebut situasi ini sebagai krisis pelayanan yang tak bisa dibiarkan berlarut.
Lebih jauh, warga juga menyayangkan sikap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjar yang dinilai lamban dan tidak tegas dalam menangani persoalan ini. Salah satu warga mengatakan bahwa laporan telah disampaikan ke DLH, namun tidak ada langkah nyata yang diambil.
“Seolah-olah DLH tutup mata. Kami sudah lapor, tapi mereka diam saja. Ini sangat mengecewakan,” ucapnya.
Warga berharap pemerintah kota tidak terus membiarkan perusahaan pengelola sampah seperti Kamisama bekerja tanpa pengawasan ketat. Mereka menuntut agar Pemkot Banjar mengevaluasi kerja sama dengan perusahaan tersebut dan memastikan standar pelayanan terpenuhi.
“Seharusnya pemerintah berani bertindak tegas. Jangan sampai masyarakat terus jadi korban kelalaian perusahaan,” kata warga lainnya yang ikut dalam aksi protes.
Menanggapi desakan warga, pihak Kamisama akhirnya berjanji akan melakukan perbaikan layanan dan mempercepat proses pengangkutan sampah yang sempat terhenti. Meski begitu, tidak ada kepastian waktu mengenai penyelesaian tunggakan retribusi maupun pembenahan sistem manajemen yang dikeluhkan warga.
BACA JUGA : Bantuan Mengalir ke Korban Longsor Panawangan
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari DLH Kota Banjar terkait langkah yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah ini. Situasi ini pun menjadi ujian serius bagi pemerintah daerah dalam menunjukkan komitmen terhadap pelayanan publik dan pengawasan terhadap mitra kerja.
Bagi warga, janji semata tidak cukup. Mereka menuntut bukti nyata berupa perbaikan layanan dan tanggung jawab penuh dari semua pihak yang terlibat. Masalah sampah, bagi warga Purwaharja, bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal hak sebagai warga yang selama ini telah memenuhi kewajibannya. (Johan/infopriangan. com)

