Longsor dan Bendungan Jebol Terjang Bangunharja
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Bencana alam berupa longsor dan jebolnya bendungan melanda Desa Bangunharja, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, pada Kamis (malam) sekitar pukul 19.00 WIB. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam, menyebabkan kerusakan infrastruktur serta mengancam permukiman warga di sejumlah titik.
Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, selain kerusakan pada Jembatan Singa Miring, bencana juga mengakibatkan jebolnya bendungan di Sungai Cihonje yang selama ini berfungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian warga. Bendungan tersebut diketahui mengairi sekitar lima hingga sepuluh hektare sawah.
Kepala Desa Bangunharja Carikin menyampaikan bahwa kerusakan bendungan menjadi persoalan serius, terutama karena saat ini petani tengah bersiap memasuki musim tanam. Ia menegaskan bahwa dampak dari jebolnya bendungan berpotensi mengganggu produktivitas pertanian warga.
“Bendungan di Sungai Cihonje itu jebol terbawa arus deras. Padahal fungsinya sangat vital untuk pengairan sawah warga,” ujarnya. Jumat, (03/04/2026).
Carikin menambahkan, pemerintah desa hanya mampu melakukan penanganan darurat dengan keterbatasan sumber daya yang ada.
Selain bendungan yang jebol, bencana longsor juga terjadi di beberapa lokasi. Di Dusun Kertaharja, longsoran tanah dengan ketinggian tebing sekitar tujuh hingga delapan meter dilaporkan mengancam permukiman warga. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Sementara itu, di Dusun Mekarmulya tepatnya di Blok Cihawu, terdapat dua titik longsoran yang turut mengganggu akses warga. Material tanah yang menutup sebagian area membuat aktivitas masyarakat menjadi terhambat dan memerlukan penanganan segera.
Tidak hanya itu, di perbatasan beberapa disun, badan jalan dilaporkan amblas akibat pergerakan tanah. Kerusakan ini berdampak langsung pada mobilitas warga dan berpotensi membahayakan pengguna jalan jika tidak segera diperbaiki.
Carikin secara terbuka meminta perhatian pemerintah daerah, khususnya instansi teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Pertanahan (DPUTRP), untuk segera turun tangan melakukan peninjauan dan penanganan lebih lanjut.
“Kami berharap pihak terkait, terutama dari PUPR, bisa segera meninjau lokasi dan memberikan solusi permanen, karena penanganan darurat tidak akan cukup,” tegasnya.
Hingga saat ini, tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun demikian, potensi bencana susulan masih mengancam mengingat kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang masih tinggi di wilayah tersebut.
BACA JUGA: Jembatan Bangunharja Terancam Putus Pemda Harus Sigap
Warga bersama pemerintah desa telah melakukan upaya penanganan sementara, seperti membersihkan material longsor dan mengamankan area rawan. Meski begitu, keterbatasan alat berat dan dukungan teknis menjadi kendala utama dalam proses pemulihan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan longsor. Evaluasi terhadap kondisi infrastruktur dan sistem drainase dinilai mendesak dilakukan guna mencegah dampak yang lebih besar di masa mendatang. (Agus)

