Mengenal Hemofilia, Gangguan Perdarahan yang Perlu Diwaspadai
infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Peringatan Hari Hemofilia Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap gangguan perdarahan yang masih jarang dikenal luas, seperti hemofilia dan Von Willebrand Disease (VWD). Melalui momen ini, tenaga kesehatan mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan memahami gejala serta penanganan penyakit tersebut sejak dini.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum Daerah Pandega (RSUD Pandega) Kabupaten Pangandaran, Dyah Rahmawanti, mengatakan bahwa hemofilia merupakan kelainan langka yang menyebabkan darah seseorang sulit membeku. Kondisi ini membuat penderita mengalami perdarahan yang berlangsung lebih lama dibandingkan orang pada umumnya.
Menurut Dyah, pada orang yang tidak memiliki hemofilia, luka kecil biasanya akan berhenti berdarah dalam waktu singkat karena tubuh memiliki sistem pembekuan darah yang bekerja normal. Sebaliknya, pada penderita hemofilia, luka ringan sekalipun dapat menyebabkan perdarahan yang lebih lama dan berpotensi membahayakan apabila tidak ditangani dengan tepat.
“Hemofilia adalah kelainan yang terjadi karena tubuh kekurangan protein pembeku darah. Akibatnya, proses pembekuan darah tidak berjalan optimal sehingga seseorang lebih mudah mengalami perdarahan,” ujar Dyah. Selasa, (10/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa hemofilia merupakan penyakit yang umumnya diturunkan secara genetik dari orang tua kepada anak. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti mudah memar, perdarahan yang sulit berhenti setelah cedera, hingga perdarahan yang muncul secara spontan tanpa sebab yang jelas.
Dyah menambahkan bahwa selama ini hemofilia sering dianggap hanya terjadi pada laki-laki. Sementara perempuan kerap dianggap hanya sebagai pembawa gen penyakit tersebut. Padahal, dalam beberapa kasus, perempuan juga dapat mengalami gejala hemofilia meskipun sering kali tidak terdeteksi.
“Selama ini masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan hanya menjadi pembawa gen. Padahal perempuan juga bisa mengalami gejala perdarahan yang berkaitan dengan hemofilia, sehingga perlu mendapat perhatian yang sama dalam pemeriksaan maupun pengobatan,” jelasnya.
Ia juga menuturkan bahwa pada sebagian penderita,
gejala hemofilia sudah dapat muncul sejak usia anak-anak. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama ketika terjadi perdarahan di dalam tubuh seperti pada sendi atau organ tertentu.
Karena itu, ia menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala gangguan perdarahan sejak dini. Pemeriksaan medis sangat diperlukan agar diagnosis dapat ditegakkan secara tepat dan pasien mendapatkan penanganan yang sesuai.
Tahun ini, peringatan Hari Hemofilia Sedunia mengangkat tema “Access for All: Women and Girls Bleed Too”. Tema tersebut menyoroti pentingnya akses layanan kesehatan yang adil bagi seluruh pasien, termasuk perempuan dan anak perempuan yang selama ini kerap kurang mendapatkan perhatian dalam diagnosis gangguan perdarahan.
Menurut Dyah, pemerataan layanan kesehatan menjadi salah satu langkah penting dalam penanganan hemofilia. Fasilitas kesehatan perlu menyediakan layanan pemeriksaan faktor pembekuan darah serta akses terhadap obat-obatan yang dibutuhkan pasien.
BACA JUGA: Tips Tetap Bugar Saat Puasa dari RSUD Pandega Pangandaran
Ia berharap masyarakat tidak lagi menganggap remeh gejala perdarahan yang tidak normal. Jika seseorang sering mengalami memar tanpa sebab jelas, mimisan yang sulit berhenti, atau perdarahan berkepanjangan setelah luka kecil, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Dengan pemeriksaan yang tepat, hemofilia dapat diketahui lebih dini sehingga penanganannya juga bisa dilakukan secara lebih optimal,” kata Dyah.
Melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan semakin banyak penderita gangguan perdarahan yang dapat terdeteksi sejak dini. Dengan begitu, mereka dapat memperoleh perawatan yang tepat sehingga kualitas hidupnya tetap terjaga. (Kiki Masduki)

