Pemetik Kelapa Salah Satu Profesi Paling Berbahaya
infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Kabupaten Pangandaran sangat kaya akan sumber daya alam, salah satunya adalah pohon kelapa. Hampir disetiap kecamatan terdapat pohon kelapa, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Baik dipegunungan maupun di pantainya.
Buah kelapa sudah menjadi bahan industri, diolah menjadi berbagai produk, mulai dari bumbu masakan, minuman sampai menjadi minyak.
Untuk itu, ada beberapa masyarakat di Kabupaten Pangandaran, yang berprofesi sebagai buruh pemetik kelapa. Seiring dengan permintaan buah kelapa yang tinggi.
Namun, menggeluti profesi yang satu ini buka tanpa resiko, sudah ada beberapa orang yang mengalami cedera bahkan sampai meninggal, akibat terjatuh dari pohon kelapa.
Seperti yang diceritakan salah satu pemetik kelapa bernama Solih (33) warga Desa Karangbenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Dia telah menjadi pemetik kelapa sejak tahun 2004, atau sejak usianya masih berusia 14 tahun. Ia yang hanya lulusan SD itu, ingin sekali punya penghasilan.
“Saya lihat di kampung, banyak yang jadi buruh pemetik kelapa, punya kendaraan, uang yang cukup, saya jadi tertarik,” kata Solih. Senin, (24/07/2023).
Dengan bermodalkan kemampuan memanjat dan tenaga yang ekstra, Solih nekad untuk menjadi buruh pemetik kelapa.
“Naik ke pohon kelapa itu butuh tanaga yang kuat, baik tangan untuk memgang dan kaki sebagai pendorong,” katanya.
Saat sampai di pucuk pohon, situasinya makin sulit, Solih harus mencari pegangan agar tidak jatuh, sementara satu tangan memegang golok untuk memotong dahan kelapa yang menghalangi buahnya.
“Ngambil buahnya juga kadang-kadang memakai golok, kadang juga pakai teknkik dipetik,” ungkapnya.
Ia mengatakan, pernah sekali dia mengalami cedera cukup parah, dibagian dagu dan dada.
“Saya pernah terpeleset, tapi saat itu masih sanggup megang pohon kelapa, tapi dagu saya harus dijait dan dada memar,” jelasnya.
Kejadian lebih parah lagi terjadi pada rekanya bernama Sugeng, yang benar-benar jatuh dari pohon kelapa.
“Itumah tangan dan rusuknya yang cedera, jatuh dari kelapa setinggi kurang lebih 7 meteren,” jelas dia.
Kemudian ada lagi warga Desa Ciliang Kecamatan Parigi, yang jatuh dengan posisi duduk dan kondisinya sampai lumpuh.
“Sampai tidak bisa kemana-mana, mungkin sarafnya cedera, sampai akhirnya meninggal,” terangnya.
Kata dia, pohon kelapa di Kabupaten Pangandaran, memiliki karkteristik atau ciri yang menjulang tinggi.
“Ya bagi yang tidak berpengalaman cukup bahaya juga,” jelasnya.
BACA JUGA: Bupati Ciamis: PPPK Harus Jaga Attitude
Dia bisa menerima upah Rp 100 ribu untuk satu hari menjadi buruh pemetik kelapa. Biasanya ada juga yang memberi upah untuk satu pohon Rp. 15.000.
“Namun dalam satu bulan, tidak setiap hari saya memetik pohon kelapa. Jadi kadang-kadang ada libur juga, biasanya hari Jumat, semuanya juga begitu,” ujarnya. (Iwan/IP)

