Pemkab Ciamis Soroti Serius Masalah ATS
Infopriangan com. BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis tengah menaruh perhatian serius pada persoalan anak tidak sekolah (ATS) yang berjumlah sekitar 13.000 jiwa. Isu ini menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan meningkatkan Harapan Lama Sekolah (HLS) sebagai indikator kunci Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Kepala Dinas Pendidikan Ciamis Erwan Darmawan menyebutkan bahwa ATS masuk dalam kategori sasaran HLS, yakni anak usia tujuh hingga 18 tahun. Terdapat tiga klasifikasi ATS: anak yang belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali, anak yang tidak lulus sekolah (drop out), serta anak yang telah lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.
“Anak tidak sekolah bukan hanya tugas Dinas Pendidikan. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Pak Bupati dan Pak Sekda pun sering menekankan pentingnya kolaborasi antarperangkat daerah,” ujarnya dalam forum resmi bersama lintas instansi. Senin, (14/04/2025).
Pada tahun 2022, RLS dan HLS di Ciamis sempat melonjak signifikan berkat inovasi program Imas-Gemas. Namun, tren tersebut kembali melandai dalam dua tahun terakhir. Setelah ditelusuri, diduga salah satu penyebabnya adalah lemahnya akurasi data administrasi kependudukan.
“Saya punya anak yang sudah kuliah, tapi di KK masih tercatat sebagai pelajar SD. Jika seperti ini dikalkulasi, justru jadi beban RLS kita,” ungkapnya.
Berdasarkan data nasional, jumlah ATS di Ciamis mencapai 13.722 orang pada awal tahun ini. Namun hingga April 2025, angka tersebut turun menjadi sekitar 13.160 jiwa. Data ini telah di breakdown hingga level desa dan alamat, namun perlu divalidasi lebih lanjut termasuk kemungkinan anak tersebut sudah pindah domisili, bekerja di luar daerah, atau bahkan meninggal dunia.
Lebih lanjut, Dinas Pendidikan mengungkap bahwa sebagian besar ATS adalah mereka yang lulus sekolah namun tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya, terutama dari SMP ke SMA/SMK. “Kalau anak usia 18 tahun sekarang tidak tertangani, maka 6 tahun ke depan akan terus membebani RLS kita,” katanya.
Program Imas-Gemas tahun ini sendiri berhasil mendorong 11.000 siswa kembali bersekolah melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Dari jumlah tersebut, 5.000 di antaranya merupakan anak putus sekolah, sisanya adalah peserta program pendidikan kesetaraan 24+.
Dinas Pendidikan juga mencurigai bahwa penurunan grafik capaian RLS bukan karena minat belajar yang rendah, melainkan karena banyak PKBM yang belum memperbarui data peserta didiknya di Dukcapil.
“Ini yang akan kita benahi. Ke depan, kita rencanakan update data KK setiap tahun,” tegasnya.
BACA JUGA: Warga Keluhkan Jalan Rusak Penghubung Desa
Upaya pemetaan sasaran dilakukan dengan detil, mencakup analisis per kecamatan dan per desa. Tahun 2024 telah dimulai dengan fokus pada penguatan dan validasi data. Targetnya, proses ini rampung hingga Januari 2026.
Tidak hanya itu, Pemkab Ciamis juga mengarahkan PKBM agar memberikan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan lokal. Di wilayah pertanian, peserta akan dibekali pelatihan pertanian. Di wilayah lain, disesuaikan seperti menjahit, keterampilan rumah tangga, hingga kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pertanian.
“Jadi bukan sekadar mendapat ijazah, tapi juga keterampilan untuk hidup. Ini adalah investasi pendidikan jangka panjang kita,” pungkasnya. (Eddy Supriatna/infopriangan.com)

