Penderita DBD di Kota Tasikmalaya Terus Bertambah
infopriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di tengah meluasnya penyebaran penyakit Covid-19, kematian akibat demam berdarah dengue(DBD) terus bertambah. Masyarakat diminta untuk tetap waspada akan penularan DBD dengan aktif melaksanakan gerakan pemberantasan sarang nyamuk.
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat mencatat, enam orang meninggal dunia sejak Januari hingga April tersebar di beberapa kecamatan.
Hingga saat ini, Dinas Kesehatan, Kota Tasikmalaya tetap berupaya agar masyarakat memerangi dengan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain itu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di setiap halaman rumah maupun tempat lain.
Supaya jentik nyamuk tidak tumbuh dewasa tetapi sekarang ini, masih banyak masyarakat kurang menyadari kebersihan tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan dan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih mengatakan, kasus Demam Berdarah Dengue sekarang ini semakin meningkat. Selain itu meluas di beberapa kelurahan hingga kecamatan terutama pada musim penghujan.
Serangan nyamuk Aedes Aegypti telah menimbulkan enam orang meninggal dunia dan 251 kasus lainnya telah dinyatakan positif.
“Pasien DBD yang meninggal tersebut tersebar di beberapa kecamatan di Kota Tasikmalaya. Jumlah pasien positif tercatat sejak bulan Januari hingga pertengahan April mencapai 251 orang,” ujarnya.
“Akan tetapi, kesadaran masyarakat sekarang masih kurang peduli membersihkan lingkungan rumah dan selalu menyepelekan,” jelasnya.
“Pola hidup sehat, contohnya menguras bak mandi, membuang sampah, menimbun barang bekas dan lainnya,”kata dia. Kamis9 (16/4/2020)pagi.
Suryaningsih kasus DBD setiap tahunnya terus bertambah. Sehingga kita harus tetap diwaspada.
“Masyarakat harus sadar dengan kebersihan lingkungan rumahnya. Karena, jentik nyamuk sendiri akan tumbuh menjadi dewasa jika pola hidup sehat bersih itu tidak dilakukannya, akan terus berkembangnya nyamuk lainnya.
“Dinas Kesehatan terus berupaya agar warga harus tetap mengantisipasi serangan nyamuk Aedes Aegypti dengan membuat satu gerakan yakni satu rumah satu jumantik,” jelasnya.
“Kitq juga melibatkan Puskesmas, RT /RW dan Posyandu supaya mereka tetap siaga. Untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) agar menekan jentik nyamuk tumbuh menjadi dewasa,” ujarnya.
Menurutnya, harus terus melakukan kebersihan lingkungan, supaya tidak ada jentik nyamuk berkembang biak menjadi dewasa. Mereka juga tetap memerangi dengan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk memberantas sarang nyamuk (PSN). Setiap halaman rumah hingga tempat lain agar tidak ada lagi serangan.
“Kebersihan harus tetap dilakukannya supaya lingkungan sekitar tetap aman, nyaman, sejuk dan terbebas dari serangan nyamuk Aedes Aegypti.
Masyarakat sendiri bisa melakukan berbagai langkah seperti halnya, melepaskan ikan cupang di bak penampungan agar jentik nyamuk bisa langsung dimakan.
“Beberapa langkah lain memang banyak dilakukannya seperti menaburkan Abate,” pungkasnya. (Aa Fauzy/IP)

