Pendidikan Terancam, Kasih Sayang Anak Tergeser oleh Gawai
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Dunia pendidikan kembali mendapat perhatian serius dari para praktisi daerah. Dalam kegiatan pembinaan Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Gugus 2 Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Kepala SDN 3 Baregbeg sekaligus penggerak pendidikan, Nanang Heryanto, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman hilangnya kasih sayang pada anak-anak akibat dominasi gawai dalam kehidupan sehari-hari.
Nanang menuturkan, fenomena anak yang tumbuh tanpa perhatian penuh dari orang tua maupun guru kini semakin terlihat nyata. Menurutnya, gawai yang awalnya dimaksudkan sebagai alat bantu justru berpotensi menjadi “orang tua kedua” yang mengambil alih fungsi kasih sayang.
“Jika kita tidak waspada, anak-anak akan menjadi yatim piatu digital. Mereka bukan kehilangan ayah dan ibu secara fisik, tetapi kehilangan kasih sayang karena perhatian orang tua maupun guru tergantikan oleh gawai,” ucapnya di hadapan puluhan guru. Kamis, (28/8/2025).
Dalam kesempatan itu, Nanang mengingatkan para guru agar tidak kehilangan jati diri sebagai pendidik. Anak didik, katanya, bukan sekadar objek pembelajaran, melainkan manusia yang memiliki rasa, hati, dan kebutuhan emosional.
“Guru harus mengajar dengan hati. Anak-anak bukan robot yang bisa diprogram. Mereka hanya bisa dibentuk dengan kasih sayang, keteladanan, dan sentuhan nurani guru,” tegasnya.
Nanang juga menambahkan, derasnya arus digitalisasi pendidikan jangan sampai membuat guru melupakan dimensi kemanusiaan. Teknologi, lanjutnya, hanyalah alat bantu, bukan pengganti peran guru.
“Jangan sampai ruh pendidikan hilang hanya karena tergoda aplikasi atau perangkat digital,” ujarnya.
Nanang juga menyoroti kecenderungan sebagian guru yang terlalu fokus pada peningkatan kompetensi pribadi, seperti mengejar sertifikasi atau pelatihan, tetapi tanpa disadari mengorbankan hak anak untuk belajar.
“Kompetensi guru tentu penting, tetapi jangan sampai demi sertifikat atau pelatihan, anak-anak ditinggalkan. Hak mereka untuk belajar harus tetap menjadi prioritas utama. Ingat, tugas utama guru adalah mengajar,” katanya mengingatkan.
Lebih jauh, ia mendorong Gugus 2 Lakbok tampil sebagai pelopor perubahan pendidikan di tingkat daerah. Ia mengibaratkan gugus tersebut sebagai mercusuar yang memberi cahaya dan arah dalam membentuk pola pendidikan yang lebih humanis.
Nanang pun mengajak para guru untuk bersama-sama melahirkan generasi Panca Waluya yakni generasi yang cageur (sehat), bageur (berakhlak baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (tanggap serta mandiri).
“Dari Lakbok, kita tunjukkan bahwa pendidikan bisa kembali pada hakikatnya, yaitu membentuk manusia yang utuh, sehat jasmani, kuat rohani, berakhlak mulia, cerdas, dan mandiri,” jelasnya.
Pesan Nanang mendapat sambutan hangat dari para guru. Banyak yang menilai apa yang ia sampaikan relevan dengan kondisi saat ini, di mana penggunaan gawai berlebihan telah memengaruhi karakter, kesehatan mental, hingga relasi sosial anak-anak.
Di tingkat nasional, isu ini juga menjadi perhatian. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut anak Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari lima jam per hari dengan gawai. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya interaksi sosial, lemahnya empati, serta meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental.
BACA JUGA: Polemik Dugaan Korupsi Tunjangan DPRD Banjar Disorot Publik
Acara pembinaan KKG PJOK Gugus 2 Lakbok dihadiri guru-guru sekolah dasar se-Kecamatan Lakbok dan sekitarnya. Diskusi berlangsung hangat, penuh refleksi, dan ditutup dengan komitmen bersama untuk membawa perubahan nyata di kelas masing-masing.
Di akhir acara, Nanang menegaskan kembali bahwa pendidikan harus dikembalikan pada akar budaya bangsa yang menjunjung tinggi kasih sayang, moral, dan kearifan lokal.
‘Jika kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi emas, jangan biarkan mereka diasuh oleh gawai. Mereka harus diasuh oleh cinta, dituntun oleh guru, dan dibesarkan oleh kasih sayang orang tua,” pungkasnya. (Kusmana)

