Pergerakan Tanah Ancam Rumah Warga Garut

infopriangan.com, BERITA GARUT. Bencana geologi berupa pergerakan tanah kembali mengancam pemukiman warga di Kabupaten Garut. Kali ini terjadi di Kampung Sawahjoho, Desa Singajaya, Kecamatan Singajaya. Sedikitnya 47 rumah warga dilaporkan terancam, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, sebanyak 18 rumah mengalami dampak langsung berupa retakan di dinding, lantai, bahkan ada yang sudah miring. Sementara 29 rumah lainnya berada di zona rawan dan berpotensi terdampak jika aktivitas tanah terus berlanjut. Tidak hanya rumah tinggal, dua bangunan tempat ibadah juga masuk dalam daftar bangunan yang terancam.

Kepala Pelaksana BPBD Garut, Aah Anwar Saefullah, mengungkapkan bahwa fenomena pergerakan tanah ini bukanlah kejadian mendadak. Ia mengatakan gejala awal sudah terdeteksi sejak pertengahan tahun 2024. Namun saat itu, aktivitasnya masih tergolong ringan dan belum menimbulkan kerusakan signifikan.

“Sejak beberapa hari terakhir, intensitas hujan di wilayah Garut, khususnya di Singajaya, cukup tinggi. Hal itu mempercepat pergerakan tanah. Sekarang kondisinya sudah mengkhawatirkan,” ujar Aah saat dihubungi. Kamis. (10/04/2025).

Menurut Aah, hujan yang turun terus-menerus membuat tanah menjadi jenuh air, sehingga daya ikat antar partikel tanah menurun. Akibatnya, kontur tanah mudah bergeser, terutama di kawasan perbukitan dengan struktur tanah yang labil. Ia menyebut, BPBD telah menerjunkan tim ke lokasi untuk memantau perkembangan dan melakukan asesmen teknis.

Warga sekitar mulai merasakan dampak psikologis akibat bencana ini. Burhanudin, seorang warga terdampak, mengaku dirinya dan keluarga terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya di kampung lain. Ia tidak berani tinggal di rumah sendiri karena takut terjadi longsor susulan.

“Setiap malam kami tidak bisa tidur tenang. Hujan sedikit saja langsung waswas. Dinding rumah sudah retak, lantai juga mulai turun,” katanya.

Burhanudin berharap pemerintah segera mencarikan solusi agar warga bisa tinggal dengan aman dan tidak dihantui ketakutan setiap saat.

Puluhan warga lainnya juga telah dievakuasi ke lokasi yang dianggap lebih aman. Pemerintah desa dan kecamatan setempat saat ini sedang melakukan koordinasi intensif dengan BPBD, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta Dinas Pekerjaan Umum. Tujuannya adalah untuk merumuskan solusi jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk kemungkinan relokasi permanen bagi warga terdampak.

Sementara Bupati Garut, Syakur Amin, telah meninjau langsung lokasi bencana dan menemui warga di tempat pengungsian. Dalam kunjungannya, Syakur menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan tinggal diam dan akan bergerak cepat untuk menangani dampak bencana ini.

“Kami sedang bahas opsi relokasi. Tapi ini harus dikaji dengan matang. Yang jelas, keselamatan warga adalah prioritas utama,” tegas Syakur.

Syukur meminta seluruh warga tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Pemerintah, kata dia, sudah menyiapkan langkah-langkah darurat termasuk penyediaan kebutuhan dasar bagi para pengungsi.

BACA JUGA: Akar Kelapa: Potensi Terlupakan yang Sarat Manfaat

Meski begitu, pengamat kebencanaan menilai pergerakan tanah di wilayah rawan seperti Singajaya seharusnya mendapat perhatian lebih sejak awal. Edukasi mitigasi, pembatasan pembangunan di zona merah, serta pemetaan rawan bencana berbasis data geospasial harus diperkuat.

Pergerakan tanah memang bukan hal baru di Garut, namun penanganan yang lambat dan kurangnya langkah antisipasi sering kali memperburuk situasi. Jika tidak ada strategi jangka panjang, kejadian serupa bisa terus berulang di masa depan, dengan risiko yang semakin besar. (Liklik Sumpena/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan