Petani Cisompet Merugi Akibat Serangan Hama Keong Mas

infopriangan.com, BERITA GARUT. Sejumlah petani di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, mengaku mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah akibat serangan hama keong mas. Tanaman padi yang baru saja ditanam habis dilahap hama tersebut hanya dalam waktu semalam. Kondisi ini membuat banyak petani frustrasi dan sebagian bahkan memilih untuk membiarkan sawahnya terbengkalai.

Suryana, salah satu petani padi di Cisompet, menceritakan pengalamannya yang penuh kekecewaan. Ia mengaku tanaman padinya habis dimakan keong mas hanya dalam semalam.

“Aneh, hari ini saya tanam padi, tapi besok paginya sudah habis dimakan keong mas. Mungkin karena jumlahnya yang sangat banyak,” ujar Suryana dengan nada kecewa.

Kejadian serupa juga dialami oleh Sandi, petani lain di daerah yang sama. Ia mengaku sudah beberapa kali menanam padi, namun hasilnya selalu sama—padi yang baru ditanam langsung diserang dan habis dimakan keong mas.

“Saya sudah mencoba berbagai cara, termasuk menyemprot dengan obat khusus untuk membasmi keong mas, tapi sepertinya sia-sia. Keongnya tidak mati-mati,” kata Sandi dengan nada pasrah.

Meski sudah menggunakan pestisida, para petani merasa usaha mereka tidak membuahkan hasil. Keong mas tetap saja berkembang biak dengan cepat dan merusak tanaman padi dalam waktu singkat. Hal ini membuat banyak petani menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli obat-obatan pembasmi hama, namun hasilnya nihil.

Selain penyemprotan pestisida, petani di Cisompet juga melakukan metode tradisional untuk mengurangi jumlah keong mas, yaitu dengan memungutnya secara manual. Keong-keong tersebut kemudian dikumpulkan dalam karung untuk dibuang jauh dari sawah.

“Memungut keong satu per satu memang butuh waktu lama, tapi setidaknya cara ini cukup efektif,” ujar seorang petani yang ikut memungut keong mas di sawahnya.

Beberapa petani bahkan mempekerjakan warga sekitar untuk membantu memungut keong mas. Mereka memberikan upah sebesar Rp500 per kilogram keong yang berhasil dikumpulkan. Meskipun terlihat sederhana, metode ini cukup membantu dalam mengurangi populasi keong mas di area persawahan.

Namun, usaha tersebut belum sepenuhnya berhasil. Beberapa petani sudah terlalu lelah dan frustasi dengan kondisi ini, sehingga memilih untuk membiarkan sawahnya kosong daripada terus merugi. Menurut mereka, biaya yang sudah dikeluarkan untuk pengolahan sawah dan pembelian bibit padi tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

“Kami sudah keluar biaya banyak untuk membeli bibit, pupuk, dan obat pembasmi hama, tapi hasilnya nol. Ini sangat mengecewakan,” keluh seorang petani yang enggan disebutkan namanya.

Serangan hama keong mas di Cisompet bukanlah hal baru. Namun, tahun ini serangan terasa lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para petani berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk membantu mengatasi masalah ini.

“Kami butuh solusi yang lebih efektif, mungkin pendampingan atau bantuan obat yang benar-benar ampuh membasmi keong mas,” ujar Suryana.

Menurut pengamatan di lapangan, keong mas sering menyerang tanaman padi yang baru ditanam karena struktur batangnya yang masih lembut dan mudah dimakan. Selain itu, kondisi cuaca yang lembap dan genangan air di sawah menjadi lingkungan ideal bagi keong mas untuk berkembang biak dengan cepat.

Beberapa ahli pertanian menyarankan agar petani melakukan pengendalian hama secara terpadu, termasuk dengan membersihkan gulma di sekitar sawah, mengatur pola tanam, dan menggunakan pestisida dengan dosis yang tepat.

Dengan musim tanam yang masih berjalan, para petani di Cisompet hanya bisa berharap agar masalah ini segera ditangani. Jika tidak, kerugian yang mereka alami akan terus bertambah, dan sektor pertanian di daerah ini akan semakin terpuruk.

BACA JUGA: Mobil Putih Nyaris Terjun di Jalur Batukaras Madasari

“Kami tidak ingin hanya janji-janji, kami butuh tindakan nyata dari pemerintah untuk membantu mengatasi masalah ini,” pungkas Sandi.

Serangan hama keong mas di Cisompet bukan sekadar masalah kecil. Ini adalah ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal yang membutuhkan perhatian dan solusi cepat. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya petani yang merugi, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada hasil panen dari sawah-sawah di Cisompet. (Liklik/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan