PGRI Harus Tegak di Atas Mekanisme, Bukan Kepentingan Pribadi

infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Polemik seputar pergantian pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) belakangan ini mulai mencuat di beberapa kalangan internal organisasi. Namun Ketua Dewan Pakar PGRI Kabupaten Ciamis, H. Wawan Arifin, mengingatkan semua pihak agar tetap mengedepankan aturan organisasi dan tidak bermain di luar rel mekanisme yang sudah ditetapkan.

Menurutnya, PGRI sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonesia, sudah memiliki sistem yang mapan dalam mengatur pergantian kepengurusan. Hal ini tidak boleh diabaikan atau dimanipulasi demi kepentingan kelompok atau individu tertentu.

“Regulasi dan mekanisme pergantian pengurus itu sudah jelas. Ada jenjang dan tahapan yang diatur mulai dari tingkat Pengurus Besar (PB), Provinsi, Cabang, hingga ke Ranting. Semua sudah termuat dalam AD/ART PGRI,” tegasnya saat ditemui di Ciamis. Selasa, (27/05/2025).

Wawan menilai bahwa organisasi harus berdiri di atas prinsip kolektif kolegial, bukan dikendalikan oleh segelintir pihak yang ingin mengatur arah kepengurusan sesuka hati. H. Wawan dengan nada tenang namun tegas mengatakan bahwa semua pihak harus menghormati proses yang sudah menjadi kesepakatan bersama dalam tubuh organisasi.

“Kita ini organisasi besar, jadi jangan main ‘kucing-kucingan’ dalam pergantian kepemimpinan. Kalau sudah ada aturan main, ya ikuti. Jangan ada manuver atau tekanan untuk memenangkan satu nama tertentu,” tuturnya.

Lebih lanjut, H. Wawan menjelaskan bahwa proses pencalonan ketua maupun pengurus lainnya juga sudah diatur secara rinci. Tidak ada celah untuk calon ‘titipan’ atau intervensi dari luar.

“Siapapun boleh mencalonkan diri, asalkan memenuhi syarat dan mengikuti prosedur yang ada. Tidak ada larangan. Tapi jangan sampai proses demokratis ini dirusak oleh intervensi yang tidak sehat. Ujungnya nanti anggota yang menentukan. Biarkan demokrasi berjalan,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan menyikapi munculnya isu bahwa ada upaya penggiringan opini untuk mendukung kandidat tertentu menjelang pemilihan pengurus baru. Menurut informasi yang dihimpun dari berbagai sumber internal PGRI, beberapa oknum diduga mencoba mengarahkan dukungan dengan pendekatan personal dan tekanan sosial.

Menanggapi hal itu, H. Wawan menegaskan bahwa tindakan semacam itu bertentangan dengan semangat kebersamaan dan integritas yang selama ini dibangun dalam PGRI.

“Kalau sejak awal sudah ada penggiringan, maka organisasi ini akan kehilangan marwahnya. Di sinilah peran para guru senior, dewan pakar, dan pengurus lama untuk meluruskan arah,” ujar dia.

BACA JUGA: Ciamis Raih WTP ke-12, Bukti Konsistensi Tata Kelola Keuangan

Wawan mengajak semua anggota PGRI untuk menggunakan hak pilihnya secara bebas dan bertanggung jawab. Menurutnya, pemilihan pengurus adalah momen penting yang harus dijaga dengan penuh kedewasaan.

“Kita ingin yang terbaik untuk organisasi, bukan untuk kepentingan sesaat. Mari kita jaga kehormatan PGRI sebagai wadah profesionalisme dan perjuangan guru. Jangan biarkan nilai-nilai itu dikotori oleh kepentingan pragmatis,” tutupnya.

Pernyataan H. Wawan Arifin menjadi penyejuk sekaligus peringatan keras bagi pihak-pihak yang mencoba bermain di balik layar. Ia meyakini, jika semua pihak menjunjung tinggi aturan, maka PGRI akan tetap menjadi organisasi yang kuat, mandiri, dan berwibawa. (Gani/ infopriangan. com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan