Proyek Irigasi Cigembor Rp195 Juta Jadi Sorotan
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang saat ini berjalan di Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis, Jawa Barat, mulai mendapat sorotan dari masyarakat. Proyek yang dibiayai dari APBN 2025 dengan anggaran sebesar Rp195 juta dan masa pelaksanaan 45 hari kalender itu dinilai belum menunjukkan kualitas kerja yang memadai.
Sejak awal pengerjaan, warga menilai banyak kejanggalan yang terlihat di lapangan. Material pasir yang digunakan tampak bercampur lumpur sehingga dianggap tidak layak untuk sebuah proyek irigasi yang tujuannya menunjang kebutuhan petani dalam jangka panjang.
“Kalau pasirnya seperti ini, tentu hasil bangunannya tidak akan maksimal. Irigasi ini untuk jangka panjang, jangan sampai baru selesai sudah rusak,” ucap seorang warga. Kamis, (04/09/2025).
Selain itu, masyarakat juga menyoroti metode pencampuran material yang dilakukan tanpa ukuran jelas. Tidak terlihat adanya takaran atau alat ukur yang digunakan oleh pekerja dalam mengolah bahan material. Kondisi ini menimbulkan keraguan tentang standar mutu yang diterapkan.
Seorang tokoh masyarakat mengatakan, tidak pernah melihat satupun alat ukur untuk takaran semen dan pasir.
“Kami tidak melihat adanya ukuran pasti dalam mencampur adukan semen. Itu membuat kami khawatir kualitas bangunan nanti tidak sesuai harapan,” ungkapnya.
Ia bahkan mempertanyakan fungsi pengawasan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy. Menurutnya, pengawasan yang seharusnya ketat justru tidak terlihat di lapangan.
“Di mana fungsi pengawasan pekerjaan? Kok pekerjaan ini dibiarkan. Kami butuh hasil berkualitas, jangan hanya bertahan sebentar. Ini uang negara, pasangkan sesuai perencanaan,” katanya dengan nada tegas.
Kritik lain datang terkait penggunaan semen dengan merek berbeda. Warga menilai pergantian merek semen dalam satu pekerjaan akan memengaruhi kualitas akhir. Mereka menilai, konsistensi material semestinya dijaga agar kekuatan bangunan tetap terjamin.
Program irigasi yang berlokasi di wilayah Cipalih/Nagawiru itu sebenarnya memiliki tujuan yang sangat penting, yakni membantu petani memperoleh aliran air yang merata ke sawah mereka, khususnya di musim kemarau. Namun, bila sejak awal kualitas pengerjaan diabaikan, manfaat besar yang dijanjikan bisa saja tidak terwujud.
Selain persoalan teknis, etika pelaksanaan proyek juga menjadi sorotan. Sejumlah warga melihat semen ditumpuk di fasilitas umum WC Ruang Terbuka Hijau (RTH) dekat lokasi proyek. Hal tersebut dinilai tidak pantas karena fasilitas publik mestinya dijaga kebersihannya.
“Kami tidak keberatan ada pembangunan. Tapi tolong jangan sampai fasilitas umum dijadikan tempat penumpukan material. Itu merusak fungsi dan mengganggu kenyamanan,” ujar warga lainnya.

BACA JUGA: SPPG Asnal Matholib Ratawangi Terima Surat Cinta Siswa
Masyarakat berharap pelaksana proyek lebih serius memperhatikan mutu bahan, teknik pengerjaan, serta menjaga etika dalam memanfaatkan ruang publik. Mereka juga menuntut pengawasan lebih ketat dari pihak terkait agar anggaran Rp195 juta benar-benar digunakan secara efektif.
“Kalau hal ini dibiarkan, bisa saja hasilnya tidak maksimal. Padahal uangnya besar, berasal dari rakyat juga,” kata warga dengan tegas.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek belum bisa memberikan keterangan resmi. Warga pun mendesak aparat penegak hukum turun tangan melakukan pengecekan langsung, agar proyek irigasi yang seharusnya memberi manfaat besar bagi petani tidak justru menimbulkan kekecewaan. (Eddy/infopriangan.com)

