Ramadhan di Pengungsian: Warga Tasikmalaya Berjuang

infopriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ramadhan yang seharusnya penuh kehangatan dan kebersamaan berubah menjadi ujian berat bagi warga Kampung Margamulya, Desa Cikondang, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka harus menjalani sahur di pengungsian setelah rumah-rumah mereka hancur akibat pergerakan tanah yang terus meluas.

Di tempat penampungan sementara, suasana haru terasa. Warga duduk bersila, menyantap hidangan sahur seadanya dengan penerangan lampu darurat. Beberapa anak tertidur di pangkuan ibunya, sementara yang lain berusaha menghabiskan makanan mereka sebelum azan Subuh berkumandang.

“Rasanya berat, tapi kami harus tetap bersyukur bisa berkumpul di sini,” ujar Dede (45), salah satu warga yang rumahnya roboh akibat retakan tanah yang semakin dalam.

Pergerakan tanah di Desa Cikondang bukanlah hal baru, tetapi kondisinya memburuk dalam beberapa hari terakhir. Retakan yang semula hanya beberapa sentimeter kini telah mencapai kedalaman 1 hingga 3 meter, membuat banyak rumah tak lagi layak huni.

Kepala Desa Cikondang, Rosita, mengatakan bahwa sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal, sementara yang lain terpaksa meninggalkan rumah mereka karena khawatir akan longsor susulan.

“Tidak ada pilihan lain. Warga harus segera dievakuasi demi keselamatan mereka,” ujarnya.

Saat ini, 45 kepala keluarga (KK) atau 121 jiwa mengungsi di penampungan desa, sementara sebagian lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat di luar desa. Meski kondisi pengungsian serba terbatas, Rosita bersyukur karena masih ada kepedulian dari berbagai pihak yang membantu meringankan beban warga.

“Alhamdulillah, relawan dan warga sekitar ikut membantu. Bahkan, beberapa warga yang mengungsi di luar desa masih datang ke sini untuk sahur bersama,” tambahnya.

Data terbaru mencatat, 103 KK atau 271 jiwa terdampak, dengan 88 KK (223 jiwa) telah dievakuasi. Sebanyak 11 KK (27 jiwa) masih bertahan di rumah mereka, meskipun risiko longsor semakin tinggi.

Dari 90 rumah yang terdampak, 55 mengalami kerusakan berat, sementara 35 lainnya mengalami kerusakan sedang. Tak hanya rumah, pergerakan tanah juga merusak fasilitas umum, termasuk satu masjid dan dua madrasah yang kini nyaris ambruk.

Tak hanya pemukiman, bencana ini juga menghancurkan lebih dari 10 hektare lahan perkebunan. Akses jalan yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dan Pangandaran ikut terdampak. Retakan tanah membuat jalan ambles, mempersulit warga yang ingin keluar dari desa. Bahkan, dampaknya kini mulai merambah ke Desa Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

“Kami khawatir jika hujan deras terus turun, situasi akan semakin buruk,” ujar seorang relawan yang turut memantau kondisi di lokasi bencana.

Meski dalam situasi sulit, warga tetap menunjukkan semangat kebersamaan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesabaran.

Rosita berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk segera menangani bencana ini. Bantuan logistik memang datang, tetapi solusi jangka panjang masih belum jelas.

“Kami butuh kepastian. Sampai kapan warga harus bertahan di pengungsian?” tanyanya.

Di sisi lain, ia juga mengimbau warga agar tetap waspada. Pergerakan tanah masih terjadi, dan hujan yang turun hampir setiap hari semakin memperburuk situasi.

BACA JUGA: Penataan Akses Tanah Ulayat, Wamen ATR Turun Tangan

“Kami meminta warga berhati-hati, terutama yang masih nekat bertahan di rumah mereka. Tim relawan dan petugas terus melakukan pemantauan untuk memastikan keselamatan warga,” tegasnya.

Malam semakin larut, tetapi bagi warga Kampung Margamulya, tidur nyenyak masih menjadi kemewahan yang sulit didapat. Mereka hanya bisa berharap bencana ini segera berakhir dan kehidupan kembali seperti sediakala. (AA Fauzy/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan