Rinda Fauzian Angkat Gado-Gado untuk Maknai Toleransi
infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Rinda Fauzian, mahasiswa Program Doktoral Studi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus guru di MTs Negeri 1 Pangandaran, memiliki cara unik dalam menyampaikan pesan toleransi dan literasi keagamaan lintas budaya. Dalam sebuah presentasi, ia memanfaatkan gado-gado hidangan tradisional khas Indonesia sebagai metafora untuk menjelaskan pentingnya keberagaman dan kerja sama antarumat beragama.
Rinda memulai presentasinya dengan mengajak audiens membayangkan semangkuk gado-gado lengkap dengan lontong, sayuran segar, tahu, tempe, dan bumbu kacang. Ia mengatakan, “Gado-gado adalah makanan yang mudah dikenali dan nikmat disantap, namun ada pelajaran berharga dari keberagaman komposisinya.
”Ia menjelaskan, setiap bahan dalam gado-gado memiliki peran penting. “Lontong, kangkung, kacang panjang, pare, tahu, dan tempetak ada yang lebih dominan. Semua saling melengkapi. Begitu pula dalam masyarakat yang plural, perbedaan harus dihargai dan disikapi dengan saling menghormati,” ucapnya.
Menurut Rinda, filosofi gado-gado dapat diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya. “Seperti gado-gado, setiap komponen punya peran yang tak tergantikan. Jika salah satu hilang, rasanya tidak akan sempurna,” tegasnya.
Dalam paparannya, Rinda menekankan pentingnya tiga kompetensi dalam literasi keagamaan lintas budaya. Pertama, kompetensi pribadi, yaitu kemampuan memahami diri sendiri dan agama yang dianut. “Seseorang yang memahami dirinya akan lebih mudah menghargai orang lain yang berbeda agama, ras, dan budaya,” katanya.
Kedua, kompetensi komparatif, yaitu kemampuan membandingkan dan menerima perbedaan tanpa merasa lebih unggul. Ketiga, kompetensi kolaboratif, yakni kemampuan bekerja sama dengan orang yang berbeda keyakinan untuk menciptakan kebaikan dan kedamaian.
“Kolaborasi ini bukan soal mengubah keyakinan, tetapi tentang menemukan titik temu untuk bekerja bersama. Bisa dibayangkan jika siswa Muslim dan Kristen saling menghargai, berteman, dan mengerjakan proyek kebaikan bersama,” jelasnya.
Rinda juga mengajak audiens untuk melihat potensi kerja sama lintas agama di sektor pendidikan. Menurutnya, lembaga pendidikan Islam dan Kristen bisa berkolaborasi membangun suasana belajar yang inklusif dan saling menghormati.
Lanjut Rinda tiga langkah penting yang perlu dilakukan untuk membangun masyarakat harmonis. Pertama, evaluasi diri, yakni mengajak individu mengenali dan memahami keyakinan yang dianut. Kedua, kemampuan bernegosiasi secara damai dalam menghadapi perbedaan. Ketiga, membangun komunikasi empatik yang memungkinkan dialog terbuka antarindividu dari latar belakang berbeda. Rinda menekankan bahwa memahami saja tidak cukup tanpa aksi nyata.
BACA JUGA: ATR BPN Turut Meriahkan Karnaval Kemerdekaan HUT ke-80 RI
“Kita perlu membiasakan diri untuk bekerja sama dalam keberagaman. Itu yang akan membuat masyarakat kita lebih kuat dan damai,” katanya.
Di akhir presentasi, Rinda kembali mengulang metafora yang ia gunakan di awal. “Gado-gado akan terasa nikmat jika semua komponennya saling melengkapi. Begitu pula masyarakat kita, yang akan lebih indah bila setiap orang saling menghargai dan bekerja sama demi tujuan bersama,” tuturnya.
Bagi Rinda, nilai-nilai literasi keagamaan lintas budaya bukan hanya teori, melainkan bekal hidup yang harus dipraktikkan dalam keseharian. Ia percaya, harmoni sosial bisa terwujud jika setiap individu mau mengakui perbedaan, menjaga rasa saling hormat, dan membuka ruang kolaborasi. (KMP/infopriangan.com)

