Rumah Warga Pangandaran Ambruk

infopriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Sebuah rumah milik warga Dusun Gadog, Desa Batumalang, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, luluh lantak setelah dihantam angin kencang yang disertai hujan, Senin, 1 September 2025. Rumah sederhana itu milik Maksudin (44), seorang buruh serabutan yang kini hanya bisa bertahan hidup bersama istrinya, Rismawati (26), serta seorang anaknya yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.

Akibat musibah tersebut, hampir seluruh bangunan roboh. Hanya tersisa bagian dapur yang masih berdiri meski kondisinya pun jauh dari layak. Di sanalah keluarga kecil ini terpaksa tidur, beraktivitas, sekaligus berlindung dari panas dan hujan.

IMG-20260217-WA0014
IMG-20260226-WA0063

Kepala Dusun Gadog, Imron Rosadi, menuturkan bahwa pihak desa sebenarnya sudah sejak lama memikirkan kondisi keluarga tersebut. Menurutnya, kehidupan Maksudin memang jauh dari cukup. “Kami sering mencari jalan untuk bisa membantu mereka. Karena keluarga ini memang patut diberi bantuan,” ungkap Imron. Selasa (02/08/2025).

Imron menjelaskan bahwa hampir seluruh rumah Maksudin rusak akibat cuaca ekstrem yang melanda kawasan pesisir selatan Pangandaran. Ia menyebut hanya dapur yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal sementara. “Alhamdulillah, tahun ini keluarga Maksudin mendapat program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Dana Desa Batumalang sebesar Rp 10 juta,” tambahnya.

Meski bantuan itu disyukuri, Imron tidak menutup mata bahwa jumlahnya jauh dari cukup. Imron berharap ada pihak lain yang juga ikut peduli. “Anggaran dari desa terbatas. Sedangkan keluarga ini tidak punya kemampuan swadaya untuk melengkapi pembangunan. Kami berharap pemerintah daerah maupun lembaga lain bisa ikut turun tangan,” tegasnya.

Imron juga mengungkapkan bahwa pihak desa sudah berulang kali mengajukan permohonan ke pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada bantuan nyata yang turun. “Kami sudah lama berupaya dan terus konfirmasi. Sayangnya, belum ada realisasi bantuan dari sana,” jelasnya.

Sementara itu, Rismawati, istri Maksudin, tidak kuasa menahan haru. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian pemerintah desa. “Kami tinggal di dapur bersama anak sejak rumah kena musibah. Terima kasih kepada pihak desa yang sudah membantu. Kami sangat bahagia meski seadanya,” ucapnya lirih.

Rismawati juga membeberkan kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas. Suaminya bekerja serabutan, sementara ia hanya berjualan kecil-kecilan di rumah. “Penghasilan suami tidak menentu, kadang ada, kadang tidak. Hanya cukup untuk makan. Saya hanya jualan kecil-kecilan, lumayan untuk tambahan,” ujarnya.

BACA JUGA: Pemdes Ratawangi Miliki Mobil Siaga Desa

Kondisi keluarga Maksudin mencerminkan wajah nyata kemiskinan yang semakin terhimpit ketika bencana datang. Program bantuan desa memang telah membantu, tetapi kebutuhan mereka jauh lebih besar dari sekadar perbaikan atap dan dinding. Mereka membutuhkan kepastian bahwa rumah yang akan dibangun benar-benar layak, aman, dan sehat untuk dihuni.

Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa koordinasi lintas pemerintah dan kepedulian masyarakat luas sangat dibutuhkan. Tidak semua persoalan warga bisa selesai hanya dengan satu sumber dana. Dibutuhkan sinergi antara desa, kabupaten, hingga pemerintah provinsi agar keluarga miskin seperti Maksudin tidak terus-menerus menjadi korban keterbatasan anggaran.

Bencana boleh jadi datang tanpa peringatan. Namun, kepedulian sosial dan kebijakan publik yang tepat seharusnya bisa menjadi benteng agar keluarga miskin tidak semakin terpuruk. (KMP, Infopriangan.com)

Bagikan dengan :
IMG-20260217-WA0014
IMG-20260226-WA0063

Tinggalkan Balasan

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan