SMPN 1 Cisaga Dikecualikan dari Turnamen Voli
infopriangan.com, BERITA CIAMIS. Turnamen Bola Voli antar SMP/MTs se-Priangan Timur yang digelar di SMK LPS Ciamis pada pertengahan Mei 2025 menuai polemik. SMPN 1 Cisaga, sekolah asal Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, mengaku dilarang ikut serta dalam kompetisi tersebut tanpa alasan yang jelas dari panitia penyelenggara.
Kekecewaan mendalam disampaikan oleh Herman, perwakilan sekolah. Ia menilai ada perlakuan yang tidak adil terhadap sekolahnya. “Ini adalah even tahunan, tapi SMPN 1 Cisaga tidak diikutsertakan lagi. Padahal dulu kami ikut dan bahkan meraih prestasi,” kata Herman.
Menurut Herman, sebelumnya SMPN 1 Cisaga menjadi salah satu kekuatan utama dalam turnamen ini. Tim bola voli putra pernah meraih posisi runner-up, sementara tim putri berhasil menjadi juara dan memegang piala bergilir. Namun kini, bukan hanya tidak diberi kesempatan untuk mempertahankan gelar, piala bergilir pun diambil kembali oleh panitia tanpa penjelasan resmi.
Yang membuat pihak sekolah semakin bingung, pada technical meeting sebenarnya sudah dilakukan voting terkait keikutsertaan SMPN 1 Cisaga. “Empat sekolah menyatakan setuju kami ikut. Hanya satu yang menolak. Tapi anehnya, hasil akhirnya kami tetap dilarang ikut,” ujarnya dengan nada heran. Sabtu, (17/05/2025).
Panitia menyebutkan bahwa keberatan datang dari sekolah lain. Namun menurut Herman, alasan ini tidak logis, karena secara geografis SMPN 1 Cisaga jelas berada di wilayah Priangan Timur. “Sementara sekolah dari luar daerah seperti Sumedang, Tasikmalaya, dan Pangandaran bisa ikut dengan mudah,” katanya.
Kepala SMK LPS Ciamis, H. Didin Asopwan, M.Pd., ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, menjelaskan bahwa turnamen ini adalah bagian dari agenda tahunan sekaligus ajang promosi sekolah. “Memang sempat ada perdebatan soal kepesertaan SMPN 1 Cisaga. Tapi keputusan akhirnya berdasarkan hasil kesepakatan dalam technical meeting,” jelas Didin.
Namun ia berjanji bahwa kejadian serupa tidak akan terjadi tahun depan. “Kami pastikan, untuk turnamen tahun depan, SMPN 1 Cisaga bisa kembali ikut serta,” tambahnya.
Sikap panitia ini mendapat kritik tajam dari Ketua Komite SMPN 1 Cisaga, Uce Kurniawan. Ia menyebut perlakuan panitia sebagai bentuk diskriminasi yang mencederai semangat sportivitas. “Panitia tidak profesional. Judulnya se-Priangan Timur, tapi sekolah dari Priangan malah dilarang ikut,” ujarnya kecewa.
Uce juga membandingkan dengan turnamen-turnamen lain yang lebih terbuka. “Kami bisa ikut di MAN Margaharja, di Rancah pun tidak pernah diperlakukan seperti ini. Hanya di SMK LPS Ciamis kami mendapat perlakuan seperti ini selama tiga periode,” katanya.
Kepala SMPN 1 Cisaga, Ujang Solihat Muslih, juga angkat bicara. Ia mengatakan bahwa alasan yang diberikan panitia tidak berdasar. Bahkan, lanjutnya, sempat ada ucapan dari salah satu peserta meeting yang menyatakan bahwa “SMPN 1 Cisaga levelnya sudah beda.”
“Kami tidak bicara soal level. Ini turnamen pelajar antar SMP/MTs, bukan liga profesional. Yang kami inginkan adalah pembinaan, evaluasi, dan semangat kebersamaan,” tegas Ujang.
BACA JUGA: Diduga Dibully, Siswa MI di Pamarican Trauma Sekolah
Ia menambahkan bahwa keikutsertaan dalam kompetisi bukan semata-mata untuk mencari gelar juara. “Bagi kami, ketika siswa yang tadinya tidak bisa bermain jadi bisa bertanding dengan percaya diri, itu sudah kemenangan dalam pendidikan olahraga,” katanya.
Keluarga besar SMPN 1 Cisaga berharap kejadian ini menjadi evaluasi bersama agar tidak terulang. Kompetisi seharusnya menjadi ruang inklusif, bukan ajang eksklusif yang dipenuhi syarat tak masuk akal.
“Jangan matikan semangat siswa hanya karena urusan teknis dan ego sektoral. Dunia pendidikan seharusnya mengajarkan keterbukaan dan keadilan,” tutup Ujang. (Kusmana/infopriangan.com)

