Tanpa Bantuan, Warga Perbaiki Kelas MI

infopriangan.com. BERITA CIAMIS. Di tengah keterbatasan, warga Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa. Mereka merehabilitasi ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hegarmanah secara swadaya, tanpa mengandalkan sepeser pun bantuan dari pemerintah.

Rehabilitasi dilakukan lantaran kondisi bangunan kelas sudah sangat memprihatinkan. Atap bocor, dinding mulai rapuh, serta lantai yang rusak membuat proses belajar mengajar terganggu. Alih-alih menunggu perhatian dari pemerintah yang tak kunjung datang, warga justru memilih bertindak.

Kepala MI Hegarmanah, Ahmad Pauji, mengungkapkan bahwa inisiatif rehab dimulai dari keprihatinan masyarakat terhadap kondisi sarana pendidikan yang dianggap tidak layak. Ia mengatakan, “Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Ini soal kenyamanan dan keselamatan anak-anak kami saat belajar.” Rabu,(23/04/2025).

Menurutnya, ruang kelas yang rusak tak hanya mengganggu aktivitas belajar, tapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa. Sebab itu, warga merasa perlu segera melakukan perbaikan, meski dengan modal seadanya.

Dana pembangunan sepenuhnya berasal dari sumbangan masyarakat, baik dalam bentuk uang, bahan bangunan, maupun tenaga kerja. Pengerjaan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kemampuan warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh harian.

Setiap akhir pekan, suasana halaman madrasah tampak lebih hidup. Para relawan datang membawa semangat kebersamaan. Ada yang memanggul batu bata, ada pula yang memotong kayu dan mencampur semen. Semuanya bekerja sukarela, tanpa imbalan.

“Ini murni dari kami, oleh kami, dan untuk kami. Tak ada dana dari manapun, apalagi dari pemerintah,” ujar seorang tokoh masyarakat yang turut serta dalam kegiatan tersebut.

Ahmad Pauji menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian warga yang begitu besar terhadap pendidikan. Menurutnya, sikap seperti ini menjadi bukti bahwa masyarakat peduli dan siap turun tangan jika negara belum mampu hadir.

Namun demikian, Ahmad menekankan bahwa pembangunan secara swadaya bukan berarti mengabaikan tanggung jawab negara. Ia berharap pemerintah segera membuka mata terhadap kondisi pendidikan di desa-desa pelosok yang kerap terabaikan.

“Madrasah adalah bagian dari sistem pendidikan nasional. Ia ikut mencerdaskan anak bangsa. Sudah semestinya mendapatkan perhatian yang sama seperti sekolah formal lainnya,” ujarnya.

Ahmad juga berharap apa yang dilakukan masyarakat Ciomas bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ia mengatakan, semangat gotong royong seperti ini adalah warisan bangsa yang harus terus dijaga. Namun tetap dibutuhkan dukungan negara untuk memastikan kualitas pendidikan bisa merata.

“Kalau semua serba swadaya terus, bagaimana nasib madrasah di tempat lain yang warganya tidak sekuat ini? Negara harus hadir, bukan sekadar janji,” tambahnya.

Hingga kini, proses rehabilitasi masih berlangsung. Meskipun lambat karena keterbatasan dana dan tenaga, warga tetap optimis bisa menuntaskan pembangunan secara mandiri.

BACA JUGA: Ciamis Siap Jalankan Inpres Koperasi Desa

Kondisi ini mencerminkan potret buram pemerataan pembangunan di sektor pendidikan. Ketika gedung sekolah di kota besar bisa menikmati fasilitas modern, sekolah-sekolah di pedesaan masih harus bertahan dengan bangunan reyot yang nyaris roboh.

Semangat warga Desa Ciomas layak diapresiasi. Namun pemerintah juga perlu bercermin: apakah keadilan sosial dalam sektor pendidikan benar-benar sudah terwujud?. Sebab, jika rakyat kecil harus terus berjuang sendiri memperbaiki sarana pendidikan, maka keberadaan negara layak dipertanyakan. (Maman/infopriangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten terlindungi. Anda tidak diizinkan untuk menyalin berita infopriangan