Telisik Opini

Keteguhan Perempuan Tua di Tengah Arus Hidup

infopriangan.com, TELISIK OPINI. Beberapa waktu lalu, masyarakat dibuat tersentuh oleh kisah seorang perempuan lanjut usia asal Cikole yang tetap bekerja keras di ladang sayur setiap hari. Ia berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju Gunung Karamat untuk mencabut rumput dan merawat tanaman. Kisah ini mencuat ke publik setelah Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, menemuinya dan menyebutnya sebagai contoh nyata perempuan Sunda yang tangguh.

Cerita sederhana itu menghadirkan cermin bagi banyak orang tentang arti perjuangan dan keteguhan hati. Di tengah usia senja dan keterbatasan fisik, perempuan tersebut tetap memilih bekerja, bukan karena ambisi materi, melainkan karena tanggung jawab dan cinta terhadap keluarganya. Di balik ketegarannya, tersimpan kisah pilu tentang kondisi sosial yang masih belum berpihak kepada rakyat kecil.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa seorang perempuan tua masih harus bersusah payah bekerja. Jawaban itu sesungguhnya tidak jauh dari realitas sehari-hari.

Harga kebutuhan terus meningkat, biaya pendidikan dan kesehatan semakin tinggi, sementara penghasilan masyarakat kecil tidak kunjung naik. Dalam situasi seperti ini, tak sedikit perempuan yang terpaksa ikut memikul beban ekonomi, bahkan di usia yang tak lagi muda.

Fenomena ini memperlihatkan betapa kehidupan modern yang sarat nilai materialisme sering kali memaksa perempuan keluar dari peran alaminya.

Ketangguhan mereka kerap diukur dari kemampuan menghasilkan uang atau menopang ekonomi keluarga, bukan dari keikhlasan, ketulusan, dan kekuatan moral yang mereka miliki. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, nilai sejati seorang perempuan tidak dapat diukur dengan harta, jabatan, atau kesuksesan duniawi.

Islam memandang perempuan sebagai sosok yang mulia dengan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi. Ia adalah ummun wa rabbatul bayi ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Dari tangannya lahir anak-anak yang berakhlak, cerdas, dan memiliki semangat juang. Ketika peran ini dijalankan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sesungguhnya ia telah menjadi bagian dari pondasi peradaban.

Sejarah Islam mencatat, banyak tokoh besar lahir dari didikan ibu yang salehah dan tangguh. Mereka bukan hanya perempuan yang kuat secara fisik, tetapi juga kokoh dalam iman dan sabar menghadapi ujian kehidupan. Ketangguhan itu bukan hasil dari kekayaan atau kedudukan, melainkan dari ketaatan dan keyakinan kepada Allah.

BACA JUGA: Kadus Sukaharja Bongkar Masalah Internal Pemdes Petir Hilir

Kisah perempuan Cikole adalah pengingat bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak dalam gemerlap dunia. Dalam setiap langkah kaki menuju ladang, tersimpan doa, pengorbanan, dan cinta yang tulus. Ia mungkin tidak dikenal luas, tetapi keteguhannya menjadi simbol keberanian melawan kerasnya hidup tanpa kehilangan harapan.

Di tengah arus materialisme yang menilai segalanya dengan uang dan status, kisah ini mengajarkan bahwa nilai manusia terletak pada hatinya. Perempuan tangguh sejati adalah mereka yang berpegang pada nilai iman, tetap sabar, dan ikhlas menjalankan perannya, betapapun kecil terlihat di mata dunia. Karena pada akhirnya, ketulusan dan ketaatanlah yang membuat seseorang benar-benar mulia bukan harta, bukan pula pujian manusia. (Laela Faridah, S.Kom.I)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *