Nuzulul Quran: Awal Turunnya Wahyu Ilahi di Gua Hira
infopriangan.com, TELISIK OPINI. Setiap kali bulan Ramadan tiba, umat Islam di berbagai penjuru dunia memperingati satu peristiwa besar yang memiliki makna spiritual sangat dalam: Nuzulul Quran. Ini adalah momen ketika Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Sebuah peristiwa monumental yang menandai dimulainya wahyu Ilahi kepada Rasulullah SAW untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
“Nuzulul Quran bukan hanya tentang memperingati tanggalnya,” ujar seorang ustaz dalam sebuah ceramah Ramadan. “Tapi tentang bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.”
Peringatan Nuzulul Quran sering kali dirayakan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, lomba tilawah, dan tabligh akbar. Di Bandung, misalnya, pada Minggu (16/03/2025), pemerintah daerah menyelenggarakan acara peringatan Nuzulul Quran di Gedung Dewi Sartika. Bupati Bandung saat itu mengundang berbagai organisasi masyarakat (ormas) dan tokoh agama untuk hadir dan menyemarakkan acara.
Dalam sambutannya, Bupati mengatakan bahwa acara tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan semangat kebersamaan antarwarga. “Kita ingin menciptakan masyarakat yang rukun, damai, dan penuh toleransi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan umat dalam bingkai ajaran Islam.
Namun, di balik semarak peringatan itu, masih ada catatan penting yang perlu direnungkan bersama. Banyak pihak menilai bahwa peringatan Nuzulul Quran cenderung bersifat seremonial dan belum menyentuh esensi sejatinya: menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup secara menyeluruh.
Seorang akademisi dari sebuah perguruan tinggi Islam pernah berkata, “Kita bisa lihat banyak orang hadir di acara Nuzulul Quran, tapi setelah itu mereka kembali ke rutinitas tanpa membawa perubahan berarti. Padahal, tujuan turunnya Alquran adalah untuk membentuk manusia yang berakhlak Qurani, bukan sekadar untuk dihafal atau dirayakan.”
Ini adalah kritik yang layak disimak. Sebab, Alquran tidak diturunkan hanya untuk dibaca saat Ramadan atau dipajang di rak buku. Ia hadir sebagai petunjuk hidup, sebagai sumber hukum, sebagai cahaya yang menerangi jalan umat Islam dalam berbagai aspek: pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara.
Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, penerapan nilai-nilai Alquran masih jauh dari ideal. Masih banyak praktik ketidakadilan, korupsi, fitnah, hingga kekerasan yang bertentangan dengan ajaran Alquran. Ini menunjukkan bahwa peringatan Nuzulul Quran belum berhasil menyentuh akar permasalahan umat: kurangnya kesadaran untuk mengamalkan isi Alquran secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita tidak boleh berhenti pada seremoni,” tegas seorang dai muda dalam kajian Ramadan di masjid kampus. “Alquran harus menjadi sumber inspirasi, solusi atas masalah hidup, dan dasar dalam bertindak. Hanya dengan cara itulah kita bisa mewujudkan masyarakat Qurani yang sesungguhnya.”
BACA JUGA: Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an yang Mulia
Dengan demikian, Nuzulul Quran seharusnya menjadi momentum reflektif—bukan hanya memperingati sejarah, tapi meninjau kembali sejauh mana kita sudah menghidupkan ajaran Alquran dalam kehidupan. Sudahkah Alquran menjadi pedoman dalam mengambil keputusan? Sudahkah nilai-nilainya membentuk karakter dan pola pikir kita?
Umat Islam perlu mengubah cara pandang terhadap Nuzulul Quran. Dari sekadar rutinitas tahunan menjadi titik awal perubahan. Dari seremoni menuju transformasi. Hanya dengan mengamalkan Alquran secara kaffah—menyeluruh dan utuh—Islam akan benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kini saatnya tidak hanya memperingati Nuzulul Quran, tetapi menjadikannya cahaya yang memandu langkah kita dalam membangun pribadi yang bertakwa, masyarakat yang adil, dan bangsa yang bermartabat di bawah naungan nilai-nilai Ilahi. (Syukrilah)
